Skripsiku_Pengaruh metode AL terhadap hasil belajar

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan kurikulum teknologis yang memiliki karakteristik dan berorientasi pada disiplin ilmu, pada pengembangan individu, dan mengakses kepentingan daerah. KTSP menuntut adanya keaktifan siswa pada saat proses belajar berlangsung, sehingga peran guru dalam kelas hanya sebagai motivator, dinamisator dan fasilitator untuk membantu siswa dalam belajar (Sanjaya, 2008).

Guru sebagai seorang motivator, fasilitator, dinamisator,  pendidik dan sebagai orang yang memberi ilmu pengetahuan kepada anak didik harus betul-betul memahami kebijakan-kebijakan pendidikan. Dengan pemahaman itu, guru memiliki landasan-landasan berpijak dalam melaksanakan tugas di bidang pendidikan.

Guru memang bukanlah satu-satunya sumber belajar, tetapi tugas, peranan, dan fungsinya dalam proses belajar mengajar sangat penting. Prestasi yang dicapai anak didik tidak hanya dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan guru terhadap materi pelajaran yang akan diajarkan, tetapi juga ditentukan oleh metode mengajar dan teknik pembelajaran yang digunakan. Penggunaan metode yang baik dapat membantu siswa untuk dapat lebih memahami pelajaran dengan baik.

Fakta memperlihatkan bahwa di SMA Negeri 1 Tompo’bulu untuk  kelas XI IPA yang terdiri dari dua kelas kurang aktif dan berdampak terhadap semangat siswa. Indikasi dari kurangnya semangat siswa yaitu siswa mengalihkan perhatiannya pada objek yang lain yang tidak relevan dengan materi yang sedang ia pelajari. Dari hasil wawancara dengan guru yang bersangkutan dalam hal ini guru kimia di SMA Negeri 1 Tompobulu ketuntasan kelas yang dicapai di kelas XI IPA hanya 60% sehingga dilakukan observasi terhadap kelas XI IPA, perlu suatu pemecahan masalah dengan menggunakan metode yang dapat membuat siswa merasa nyaman dan dapat meningkatkan aktivitas siswa pada saat proses belajar-mengajar berlangsung.

Saat ini muncul suatu konsep belajar yang menawarkan cara belajar yang lebih cepat, yang dikenal dengan konsep “Accelerated Learning”. Metode belajar baru ini diharapkan dapat membantu anak didik belajar lebih cepat dari sebelumnya. Metode yang ditawarkan ini telah diuji dalam berbagai penelitian dan eksperimen pembelajaran oleh para ilmuwan dan pakar psikologi. Cara belajar dalam “Accelerated Learning“ merupakan sebuah tawaran baru yang sangat menarik untuk diteliti lebih lanjut, sebagai masukan terhadap perkembangan pendidikan di Indonesia dewasa ini dan untuk masa yang akan datang (Supraptojielwongsolo, 2008).

Metode belajar dalam Accelerated Learning mengakui bahwa masing-masing individu memiliki cara belajar pribadi pilihan yang sesuai dengan karakter dirinya. Oleh karena itu, ketika seseorang belajar dengan menggunakan teknik-teknik yang sesuai dengan gaya belajar pribadinya, maka berarti orang tersebut telah belajar dengan cara yang paling alamiah bagi diri sendiri. Cara belajar yang alamiah akan menjadi lebih mudah, dan yang lebih mudah menjadi lebih cepat, itulah alasan Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl (tahun 1997) menyebutnya cara belajar cepat.

Ketika para guru menggunakan cetak biru enam langkah yang disingkat dengan MASTER yaitu M adalah motivating your mind (memotivasi pikiran), A adalah aquiring the information (memperoleh informasi), S adalah searching out the meaning (menyelidiki makna). T adalah triggering the memory (memicu memori), E adalah exhibiting what you know (memamerkan apa yang anda ketahui) dan   R adalah reflecting how you’ve learned (merefleksikan bagaimana anda belajar) maka mereka akan menjamin bahwa pengalaman belajar adalah lengkap. Ketika para guru bekerja dalam urutan langkah-langkah tersebut, maka mereka akan merasakan bahwa itu menyenangkan, efektif, dan cepat.

Laju reaksi merupakan salah satu materi pelajaran kimia yang cukup sulit. Materi laju reaksi memuat teori yang menuntut siswa untuk dapat berfikir secara abstrak. Menciptakan suasana belajar yang baik dengan memotivasi siswa sebelum memulai pelajaran dan menggunakan analogi-analogi dapat membantu siswa dalam memahami konsep baru serta membantu membentuk memori jangka panjang terhadap konsep baru yang diberikan.

Laju reaksi ini juga memuat perhitungan yang menuntut kemampuan menganalisis soal. Latihan memecahkan soal di papan                                              tulis untuk mengetahui pemahaman siswa sangat membantu siswa untuk                                dapat melatih keterampilan menyelesaikan soal dengan bantuan dari guru maupun siswa lain berupa umpan balik dari apa yang telah dikerjakan. Kerangka pembelajaran seperti inilah yang akan membawa siswa lebih mudah memahami materi pelajaran dan membangun suasana yang tidak membosankan selama proses belajar mengajar berlangsung.

Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang Pengaruh penggunaan Metode Accelerated Learning terhadap hasil belajar siswa.

  1. B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut: “Apakah penggunaan metode Accelerated Learning berpengaruh terhadap hasil belajar siswa Kelas XI IPA I SMAN 1 Tompobulu pada materi pokok Laju Reaksi?”

C. Tujuan Penelitian

Tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh penggunaan metode Accelerated Learning terhadap hasil belajar siswa Kelas XI IPA I  SMAN 1 Tompobulu pada materi pokok Laju Reaksi.

D. Manfaat Penelitian

Bagi guru, metode Accelerated Learning ini dapat dijadikan salah satu metode pembelajaran di kelas yang mampu mengubah suasana belajar menjadi efektif dan menyenangkan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  1. A. KAJIAN TOERI
    1. 1. Metode Accelerated Learning

Saat ini muncul satu konsep yang menawarkan cara belajar yang lebih cepat, yang dikenal dengan konsep “Accelerated Learning“. Metode belajar ini merupakan metode yang dapat membantu siswa belajar lebih cepat dari sebelumnya. Metode ini telah diuji dalam berbagai penelitian dan eksperimen pembelajaran oleh para ilmuwan dan pakar psikologi. Cara belajar dalam “Accelerated Learning“ merupakan sebuah tawaran baru yang sangat menarik untuk diteliti lebih lanjut, sebagai masukan terhadap perkembangan pendidikan di Indonesia dewasa ini dan untuk masa yang akan datang, khususnya bagi pendidikan Islam (Hamruni, 2008)

Pembelajaran Akselerasi (Accelerated Learning yang disingkat AL) adalah salah satu cara yang menggugah sepenuhnya para pebelajar, membuat belajar lebih menyenangkan dan memuaskan serta memberikan sumbangan sepenuhnya pada kebahagiaan, kecerdasan, kompetensi dan keberhasilan. Ciri dari AL adalah mementingkan tujuan, bekerja sama, luwes, gembira, banyak cara, melibatkan emosional dan multi indrawi, serta mengutamakan hasil.

Pembelajaran AL sudah berkembang sejak 1970. Ide pembelajaran ini berangkat dari hasil temuan Dr. Lozanov pada tahun 1950 yang menangani pasien gangguan psikologis dengan teknik-teknik sugesti dan menenangkan mereka dengan musik barok (abad 17). Metode ini berhasil menyembuhkan pasien tersebut dan Dr. Lazanov menyebut ini sebagai ”cadangan pikiran yang tersembunyi”. Selanjutnya, Lozanov mengadakan penelitian ilmu jiwa untuk memberi sugesti kepada siswa dalam pembelajaran. Dengan mengaktifkan cadangan gelombang otak pada siswa dan keberadaan jiwa dalam memimpin pribadi membuat konsentrasi, mental, disiplin dan perenungan dengan musik dalam keadaan yang rilek untuk meningkatkan memori. Ternyata siswa dapat menyerap perlajaran bahasa asing lebih cepat, musik, sugesti positif, mainan anak-anak memungkinkan selain pembelajaran cepat juga jauh lebih efektif     (Churiyah, 2009).

Pembelajaran AL merupakan pendekatan yang sistematis terhadap pengajaran untuk seluruh orang yang berisi elemen-elemen khusus, yang ketika digunakan bersama mendorong siswa untuk belajar lebih cepat, efektif dan menyenangkan (Bobby Deporter).. Lebih lanjut dikatakan bahwa prinsip AL didasarkan pada penelitian mutakhir mengenai otak dan belajar. Metode-metode yang ditawarkan AL tidak kaku, tetapi dapat sangat bervariasi bergantung pada organisasi, pokok bahasan, dan pembelajar itu sendiri. Jaques Barzun berpendapat bahwa ” mengajar bukanlah menerapkan suatu sistem; mengajar adalah menjalankan kebijaksanaan terus menerus” Bagaimanapun juga, pada akhirnya yang paling penting bukanlah metode melainkan hasilnya.

Sebagai kelengkapan, berikut ini Gerald L Gutek dalam Montes (2008)  menyampaikan beberapa ciri belajar konvensional dibandingkan dengan metode pembelajaran AL:

Tabel 1: Perbedaan Belajar Konvensional dan Accelerated learning (AL)

BELAJAR KONVENSIONAL ACCELERATED LEARNING
kaku, muram dan serius 

satu jalan

mementingkan sarana

kompetitif

behavioristis

verbal

mengontrol

mementingkan materi

mental/kognitif

berdasar waktu

luwes, gembira 

banyak jalan

mementingkan tujuan

bekerja sama

manusiawi

multi-indrawi

mengasuh

mementingkan aktivitas

mental/emosional/fisik

berdasarkan hasil

Beberapa prinsip pokok AL adalah :
a. Keterlibatan total pebelajar dalam meningkatkan pembelajaran.
b. Belajar bukanlah mengumpulkan informasi secara pasif, melainkan

menciptakan pengetahuan secara aktif.

c. Kerjasama diantara pembelajar sangat membantu meningkatkan hasil

belajar

d. Lebih mengutamakan belajar berpusat aktivitas daripada berpusat presentasi(Widyaiswara, 2008).

Meier dan Rose dalam Churiya (2009) mengungkapkan elemen-elemen pembelajaran AL, yaitu:
a. Lingkungan fisik; perlu diciptakan lingkungan pembelajaran yang nyaman.
b. Gambar-gambar yang bermakna; informasi atau sugesti yang diberikan oleh

gambar-gambar di kelas mampu memberikan uraian yang sesuai dengan

topik.

c. Guru;  kemampuan suara (tekanan dan intonasi) dapat digunakan untuk

menangkap perhatian siswa dan menekankan poin utama.

d. Keadaan Positif; sapaan dan suara yang ramah, penggunaan bahasa yang

memotivasi dapat memperlancar dan menambah daya ingat siswa.

e. Seni dan drama; tujuannya adalah agar pembelajaran lebih hidup.

Langkah-langkah Metode Pembelajaran AL adalah:

Menurut Rose dan Nicholl (2002 :93), belajar itu menyenangkan dan berhasil dengan cara:

  1. Menciptakan lingkungan tanpa stress (relaks), yaitu lingkungan yang aman untuk melakukan kesalahan namun harapan untuk sukses tinggi.
  2. Menjamin bahwa subyek pelajaran adalah relevan. Anda ingin belajar ketika anda melihat manfaat dan pentingnya subyek pelajaran itu.
  3. Menjamin bahwa belajar secara emosional adalah positif ketika bersama orang lain, dimana ketika ada humor dan dorongan semangat, waktu rehat dan jeda teratur, dan dukungan antusias.
  4. Melibatkan secara sadar semua indera dan juga pikiran otak kiri dan otak kanan.
  5. Menantang otak untuk dapat berpikir jauh ke depan dan mengeksplorasi apa yang sedang dipelajari dengan sebanyak mungkin kecerdasan yang relevan untuk memahami subyek pelajaran.
  6. Mengkonsolidasikan bahan yang sudah di pelajari dengan meninjau ulang dalam periode-periode waspada yang relaks.

Semua langkah tersebut di atas termasuk dalam Metode Pembelajaran AL. Akan tetapi, tidak jadi soal betapa menyenangkan atau merangsangnya proses belajar itu, namun yang juga sangat penting dilakukan adalah rencana yang padu, langkah demi langkah dalam metode pembelajaran AL.

Metode pembelajaran AL dibagi menjadi enam langkah dasar yang mudah diingat yaitu dengan menggunakan singkatan M-A-S-T-E-R.

  1. Memotivasi pikiran (Motivating your mind)

Seseorang harus berada dalam keadaan pikiran yang ”kaya akal”. Itu berarti anda harus relaks, percaya diri, dan termotivasi. Jika stres atau kurang percaya diri   atau  tidak melihat manfaat dari apa  yang anda  pelajari,  maka orang tersebut tidak dapat belajar dengan baik (Rose dan Nicholl, 2002: 94). Hubungan yang baik antara guru dan murid adalah salah satu faktor penentu apakah pembelajaran dapat berjalan dengan   menyenangkan dan  efektif. Sangat    penting meluangkan  waktu bersama siswa dan menjamin siswa dapat menerima, bebas stress dan suasana hati gembira. Berikut ini adalah beberapa cara membangkitkan motivasi siswa (Lutfi, 2008):

1)           Menjelaskan kepada siswa cara kerja otak mereka dan gaya belajar.

2)           Menekankan relevansi.

3)           Memvisualisasikan kualitas hasil.

4)           Memberi siswa kepercayaan mengatur.

5)           Memberi jaminan rasa aman untuk kesalahan.

6)           Memberi sugesti keberhasilan.

7)           Memasang poster ‘sukses’.

  1. Memperoleh informasi (Acquiring the information)

Seseorang perlu mengambil, memperoleh dan menyerap fakta-fakta dasar subyek palajaran yang dipelajari melalui cara yang paling sesuai dengan pembelajaran inderawi yang disukai (Rose dan Nicholl, 2002: 94). Ada beberapa strategi yang ditawarkan Colin dan Malcolm dalam Hamruni (2008) untuk memperoleh informasi agar lebih mudah:

1)      Mendapatkan gambaran yang lebih menyeluruh tentang suatu obyek yang dimaksudkan. Otak atau pikiran mampu merasakan keseluruhan dan sebagian dari suatu hal secara bersamaan. Otak secara aktif sibuk dalam “pembuatan makna”, yaitu mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan sebelumnya, sementara secara bersamaan memisahkan informasi ke dalam tempatnya masing-masing.  Misalnya dalam membaca sebuah buku, seseorang mencoba membuka sekilas-sekilas seluruh halamannya. Mencatat (dalam hati) tajuk-tajuk bab, sub-sub tajuk bab, dan ilustrasi. Mengambil istirahat sejenak, kemudian baca cepat suatu bagian yang benar-benar menarik perhatian. Inilah cara efektif umtuk mulai belajar.

2)      Mengembangkan gagasan inti. Setiap subyek pasti memiliki gagasan inti atau gagasan pokok. Dengan memahami gagasan inti, segala sesuatunya yang lain akan mudah dimengerti. Ketika dapat memahami gagasan pokoknya, seluruh subyeknya akan menjadi menarik.

3)      Membuat sketsa dari apa yang telah diketahui. Dalam memulai proses belajar perlu membuat beberapa catatan tentang apa yang telah diketahui yang berkaitan dengan apa yang akan dipelajari.

4)      Membagi materi menjadi bagian-bagian kecil

5)      Mempertanyakan terus materi yang ingin diketahui. Dengan cara itu, apa yang belum diketahui akan membuat pikiran tetap fokus dengan mencari dan menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang disusun akan menjaga ketertarikan terhadap subyek yang dipelajari.

6)      Mengenali gaya belajar sendiri, gaya belajar seseorang adalah kombinasi dari bagaimana menyerap, kemudian mengatur dan mengolah informasi.

Menurut D. Ausubel, belajar bermakna terjadi apabila ada suatu proses yang mengaitkan informasi baru pada konsep yang relevan yang telah ada sebelumnya pada struktur kognitif seseorang. Seperti diketahui informasi disimpan di daerah tertentu dalam otak. Dalam belajar, dihasilkan perubahan-perubahan pada sel otak, terutama sel-sel yang mempunyai informasi yang mirip dengan informasi yang sedang dipelajari.

Belajar bermakna berlangsung bila informasi yang baru dikaitkan dengan informasi yang telah dimiliki. Informasi itu jika terdiri dari kumpulan beberapa konsep, maka kumpulan konsep tersebut harus dipecah-pecah tetapi satu dengan yang lain masih berhubungan sehingga berbentuk peta konsep. Konsep-konsep tersebut disusun dalam bentuk peta konsep  (Arifin, 2000: 79).

  1. Menyelediki makna (Searching out the meaning)

Menanamkan informasi pada memori menetap mensyaratkan untuk menyelidiki implikasi dan signifikansi, makna seutuhnya, dengan cara saksama mengeksplorasi bahan subjek yang bersangkutan. Ada perbedaan mendasar antara mengetahui dan memahami benar-benar sesuatu. Semata mengubah fakta ke dalam makna pribadinya adalah unsur pokok dalam proses belajar (Rose dan Nicholl, 2002 :95). Setiap jenis kecerdasan adalah sumber daya yang dapat diterapkan ketika mengeskplorasi dan menginterpretasi fakta-fakta dari materi pelajaran. Teori kecerdasan yang dikemukakan oleh Gardner, yang secara garis besarnya adalah sebagai berikut:

1)      Kecerdasan linguistik (bahasa), yaitu kemampuan membaca, menulis, dan berkomunikasi dengann kata-kata atau bahasa.

2)      Kecerdasan logis-matematis, adalah kemampuan berpikir (menalar) dan menghitung, berpikir logis dan sistematis.

3)      Kecerdasan visual-spasial, adalah kemampuan berpikir menggunakan gambar, membayangkan berbagai hal pada mata pikiran.

4)      Kecerdasan musikal, adalah kemampuan mengubah atau menciptakan musik, dapat bernyanyi dengan baik, atau memahami dan mengapresiasi musik.

5)      Kecerdasan kinestetik–tubuh, adalah kemampuan menggunakan tubuh secara terampil dalam memecahkan masalah, menciptakan produk atau mengemukakan gagasan dan emosi.

6)      Kecerdasan intrapersonal, yaitu kemampuan manganalisis diri sendiri, mampu merenung dan menilai prestasi diri, serta mampu membuat rencana dan menyusun tujuan yang hendak dicapai.

7)      Kecerdasan naturalis, yaitu kemampuan mengenal flora dan fauna, melakukan  pemilahan-pemilahan runtut dalam dunia kealaman, dan menggunakan kemampuan ini secara produktif.

Dengan menggunakan semua jenis kecerdasan tersebut akan mendorong seseorang berpikir dalam cara baru, mampu menghidupkan informasi, menjadikannya mudah diingat, memungkinkan seseorang menginterpretasikan fakta, mengubahnya dari pengetahuan permukaan menjadi pemahaman mendalam, mengaitkan yang baru dengan yang sudah diketahui, membandingkan, menarik kesimpulan, dan menjadikan semua dapat digunakan dan bermakna bagi diri sendiri (Hamruni, 2008).

  1. Memicu memori (Triggering the memory)

Memori menjadi bersifat menetap atau semestara, sangat tergantung pada bagaimana kekuatan informasi “didaftarkan” untuk pertama kalinya pada otak. Itulah sebabnya mengapa sangat penting untuk belajar dengan cara melibatkan indra pendengaran, penglihatan, berbicara dan bekerja, serta yang  melibatkan emosi-emosi positif.  Semua faktor tersebut membuat memori menjadi kuat. Berikut ini adalah beberapa cara untuk mengingat informasi yang sederhana maupun yang kompleks agar dapat tersimpan dalam memori:

1)      Memutuskan untuk mengingat, seseorang harus membuat keputusan secara sadar bahwa ingin mengingat sesuatu. Jika seseorang ingin belajar sesuatu, harus memilihnya secara sadar. Harus menentukan pilihan untuk mengingat atau tidak mengingat.

2)      Mengambil jeda, dalam mengikuti suatu sesi kerja yang lama perlu mengambil jeda atau rehat setidaknya setiap 30 menit, dan hanya butuh waktu 2 hingga 5 menit, tetapi akan menjadi istirahat yang lengkap dari apa yang tengah dipelajari. Hal ini karena seseorang akan mengingat dengan sangat baik informasi yang didengar atau dilihat pada awal dan akhir suatu sesi belajar, maka dari itu dengan mengambil beberapa kali jeda akan mengingat lebih banyak informasi yang diberikan di tengah-tengah.

3)      “Mengulangi” selama dan sesudah belajar, pengulangan dan peninjauan kembali materi yang dipelajari merupakan tahap-tahap sangat penting dalam menciptakan memori jangka panjang.

4)      Menciptakan memori multi-sensori, pastikan bahwa ada pengalaman-pengalaman visual (lihat/pandang), auditori (dengar), dan kinestetik (gerak-laku).

5)      Menciptakan akronim (singkatan), akronim adalah kata yang dibentuk dari huruf atau huruf-huruf awal, atau masing-masing bagian dari sekelompok kata, atau istilah gabungan.  Membuat berbagai akronim akan membuat lebih banyak memori menjadi menetap.

6)      Mencoba melakukan kilatan memori, cara yang dimaksud bisa dengan Buat catatan dalam bentuk peta konsep atau daftar ringkas, Pelajari dengan seksama selama satu atau dua menit, Kesampingkan catatan itu, lalu buat lagi peta konsep berdasarkan ingatan, Kini bandingkan kedua peta konsep, akan segera terlihat ada yang terlewat, dan Sekarang buatlah peta konsep yang ketiga, kemudian membandingkan dengan yang pertama.

7)      Membuat kartu belajar, Beberapa subyek cukup ideal bagi kartu-kartu belajar, misalnya rumus-rumus ilmiah  atau  kata-kata asing. Kartu-kartu itu digunakan pada waktu santai untuk  mengulang dan menguji diri sendiri.

8)      Belajar secara menyeluruh, dalam mempalajari bahan yang banyak jangan melakukannya baris demi baris, tetapi secara menyeluruh sebagai satu kesatuan.

9)      Mengubah ke dalam bentuk cerita, Seseorang dapat menambahkan dimensi lain dengan membuat sebuah cerita untuk membantu mengingat butir-butir kunci.

10)  Mengiringi dengan musik, dalam dunia pendidikan, pengaruh musik terhadap peningkatan kemampuan akademik sudah cukup lama diyakini, selain dapat berpengaruh positif terhadap kualitas kehidupan anak-anak, juga dapat merangsang keberhasilan akademik jangka panjang.

  1. Memamerkan apa yang anda ketahui (Exhibition what you know)

Membuktikan bahwa memang benar telah mengetahui suatu subyek dengan pengetahuan yang mendalam, bukan hanya luarnya saja. Menguji diri harus menjadi penjabaran otomatis dan langsung atas kemampuan yang dimiliki. Ketika seseorang menjadikan uji diri sebagai bagian otomatis dari teknik belajar maka seseorang akan menjadi “lebih mampu melihat fakta” atas kesalahan yang mungkin dilakukan. Seseorang akan mulai mengerti bahwa kesalahan mempunyai peran cukup berarti dalam belajar. Kesalahan adalah umpan balik yang bermanfaat, kesalahan adalah batu loncatan, bukan penghalang. Perlu dipikirkan pula bahwa bukan seberapa banyak kesalahan yang dibuat, tetapi apa jenis kesalahan yang dilakukan. Kesalahan hanyalah terminal-terminal sementara di jalan menuju sukses.

  1. Merefleksikan bagaimana anda belajar (Reflecting how you’ve learned)

Seseorang perlu merefleksikan pengalaman belajarnya, bukan hanya pada apa yang telah dipelajari, tetapi juga bagaimana mempelajarinya. Dalam langkah ini seseorang meneliti dan menguji cara belajarnya sendiri. Selanjutnya menyimpulkan teknik-teknik dan ide-ide yang terbaik untuk diri sendiri. Secara bertahap, seseorang akan dapat mengembangkan suatu pendekatan cara belajar yang paling sesuai dengan kemampuan dirinya.

  1. 2. Pengertian Hasil Belajar Kimia

Hasil belajar merupakan segala kegiatan yang menyebabkan siswa menemukan sesuatu yang baru tentang sesuatu hal. Dengan demikian, terjadi  perubahan pada individu dari tidak tahu menjadi tahu seperti defenisi belajar yang dikatakan oleh ahli-ahli psikologi Hilgard dan Bower (Sahabuddin, 2007):

“The process by which an activity originates or is changed through reacting to an encountered situation, provided that the characteristic of the change in activity cannot be explained on the basis of native response tendencies, maturation or temporary states of the organism (e.g. fatigue, drugs, ets).

Dari pendapat diatas, belajar diartikan sebagai proses yang memungkinkan timbulnya atau berubahnya perilaku melalui reaksi terhadap situasi yang dihadapi, asalkan karakteristik perubahan itu tidak dapat dijelaskan berdasarkan kecenderungan respon alamiah, kematangan atau keadaan sewaktu-waktu (misalnya kelelahan, pengaruh obat-obatan, dsb).

Hasil belajar merupakan hasil yang ingin dicapai siswa setelah proses pembelajaran yang penilaiannya dapat dinyatakan dalam bentuk huruf maupun angka dan menunjukkan tingkat keberhasilan siswa tersebut.

  1. 3. Tinjauan Materi Tentang Pokok Bahasan Laju Reaksi
  2. a. Pengertian Kemolaran

Kemolaran merupakan salah satu cara menyatakan konsentrasi atau kepekatan larutan. Kemolaran menyatakan jumlah mol zat terlarut dalam tiap liter larutan. Kemolaran dinyatakan dengan lambang M dan satuan mol/L. Salah satu keuntungan jika konsentrasi larutan dinyatakan dengan kemolaran, yaitu kita dapat menentukan jumlah mol zat terlarut hanya dengan mengukur volume larutan.

Dengan, M  = kemolaran larutan (mol/L)

n   = jumlah zat terlarut (mol)            V  = volume larutan (L)

  1. b. Pengertian Laju Reaksi

Laju menyatakan seberapa cepat atau seberapa lambat suatu proses berlangsung. Laju reaksi ditentukan melalui percobaan, yaitu dengan mengukur banyaknya pereaksi yang dihabiskan atau banyaknya produk yang dihasilkan pada selang waktu tertentu, misalnya laju reaksi antara magnesium dengan larutan

HCl dapat ditentukan dengan mengukur jumlah salah satu produknya, yaitu gas hidrogen.

Mg(s) +  2HCl(aq) →  MgCl2(aq) +  H2(g)

Reaksi di atas dapat dinyatakan sebagai laju pengurangan konsentrasi molar Mg dan HCl atau laju pertambahan konsentrasi molar MgCl2 dan H2.

  1. c. Penentuan Laju Reaksi

Laju reaksi dapat dinyatakan dengan berbagai cara, diantaranya adalah perubahan volum, perubahan massa, atau perubahan warna. Untuk sistem homogen, cara yang umum digunakan untuk menyatakan laju reaksi adalah pengurangan konsentrasi molar pereaksi atau laju pertambahan konsentrasi molar produk dalam satuan waktu.

Reaksi :   mR                   nP

atau

Dengan,        ∆[R]       = Perubahan konsentrasi molar pereaksi

∆[P]       = Perubahan konsentrasi molar pereaksi

v            = laju reaksi

∆t           = waktu reaksi

= laju pengurangan konsentrasi molar pereaksi dalam satu satuan waktu

= laju pertambahan konsentrasi molar produk dalam satu   satuan waktu

Contoh :

Pada reaksi : 2N2O5 (g) → 4NO2 (g) + O2 (g)

Laju reaksi dapat dinyatakan sebagai laju pengurangan konsentrasi molar N2O5 atau laju pertambahan konsentrasi molar NO2 atau laju pertambahan konsentrasi molar O2.

v N2O5 = –   M/detik

v NO2 =  M/detik

v O2 =     M/detik

  1. d. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi

1) Luas Permukaan

Laju reaksi dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya diantaranya adalah luas permukaan suatu zat. Semakin luas bidang sentuh yang dimiliki kepingan zat padat maka, semakin cepat reaksi berlangsung lebih cepat. Mengunyah makanan juga merupakan upaya dalam rangka memperluas permukaan, sehingga peruraian selanjutnya dapat berlangsung lebih cepat.

2) Konsentrasi Pereaksi

Pengaruh konsentrasi pada laju reaksi adalah semakin besar konsentrasi suatu pereaksi, maka semakin cepat reaksi berlangsung. Misalnya, reaksi keeping pualan dengan larutan HCl 4 M berlangsung lebih cepat daripada dengan larutan HCl 2 M.

3) Tekanan

Banyak reaksi yang melibatkan pereaksi dalam wujud gas. Laju dari reaksi seperti itu juga dipengaruhi tekanan. Penambahan tekanan dengan memperkecil volum akan memperbesar konsentrasi, sehingga dapat memperbesar laju reaksi. Tekanan tidak mempengaruhi perubahan mol antara pereaksi dengan hasil reaksi. Tekanan hanya mempengaruhi proses atau jalannya reaksi. Industri yang melibatkan pereaksi berupa gas, banyak yang dilangsungkan pada tekanan tinggi (Purba, 2007: 108).

4) Suhu

Laju reaksi dapat juga dipercepat atau diperlambat dengan mengubah suhunya. Hal ini disebabkan oleh peningkatan suhu mengakibatkan semakin besarnya frekuensi gerak molekul dalam suatu larutan sehingga kemungkinan terjadinya reaksi akan semakin cepat pula. Jika dikaitkan dengan proses eksoterm dan endoterm, maka laju reaksi untuk reaksi eksoterm lebih besar dibandingkan dengan laju reaksi untuk reaksi endoterm. Sebab untuk reaksi endoterm, dibutuhkan kalor untuk membantu jalannya reaksi sedangkan pada reaksi eksoterm tidak dibutuhkan kalor untuk membantu jalannya reaksi tetapi reaksi itu sendiri yang melepaskan kalor.

5) Katalis

Katalis adalah zat yang dapat mempercepat laju reaksi, tetapi zat itu sendiri tidak mengalami perubahan yang kekal. Contohnya adalah larutan besi(III) klorida (FeCl3) terhadap peruraian larutan hydrogen peroksida (H2O2). Hidrogen peroksida (H2O2) dapat teruarai menjadi air dan gas oksigen menurut persamaan:

2H2O2(aq) → 2H2O(l) + O2(g)

Pada suhu kamar, reaksi itu berlangsung sangat lambat sehingga praktis tidak teramati. Namun demikian, reaksi akan berlangsung hebat jika larutan FeCl3 ditambahkan.

  1. e. Persamaan Laju Reaksi

Hubungan kuantitatif antara konsentrasi pereaksi dengan laju reaksi dinyatakan dalam suatu persamaan, yaitu persamaan laju reaksi. Bentuk persamaan laju reaksi dinyatakan sebagai berikut:

mA + nB → pC + qD

Persamaan Laju : v = k [A]x[B]y

Dengan, k = tetapan jenis reaksi

x = orde reaksi terhadap pereaksi A

y = orde reaksi terhadap pereaksi B

Tetapan jenis reaksi (k) adalah suatu tetapan yang harganya bergantung pada jenis pereaksi, suhu, dan katalis. Setiap reaksi mempunyai harga k tertentu pada suhu tertentu. Harga k akan berubah jika suhu berubah. Reaksi yang berlangsung cepat mempunyai harga k yang besar, sedangkan reaksi yang berlangsung lambat mempunyai harga k kecil. Kenaikan suhu dan penggunaan katalis umumnya memperbesar harga k.

  1. f. Orde Reaksi

Pangkat konsentrasi pereaksi pada persamaan laju reaksi disebut orde reaksi atau tingkat reaksi. Reaksi di atas berorde x terhadap A dan berorde y terhadap B. orde reaksi keseluruhan adalah x + y. orde reaksi biasanya adalah suatu bilangan bulat positif sederhana (1 atau 2), tetapi ada juga yang bernilai 0, ½, atau suatu bilangan negatif, misalnya -1, Orde reaksi ditentukan melalui percobaan, tidak ada kaitannya dengan koefisien reaksi. Contoh penentuan orde reaksi sebagai berikut: Nitrogen oksida (NO) bereaksi dengan hidrogen (H2) membentuk dinitrogen oksida (N2O) dan uap air menurut reaksi :

2NO(g) + H2(g) → N2O(g) + H2O(g)

Pengaruh konsentrasi NO dan H2 terhadap laju reaksi ditemukan sebagai berikut:

Percobaan Konsentrasi Awal (M) Laju reaksi awal 

(M/detik)

NO H2
1 6,4 x 10-3 2,2 x 10-3 2,6 x 10-5
2 12,8 x 10-3 2,2 x 10-3 1,0 x 10-4
3 6,4 x 10-3 4,4 x 10-3 5,1 x 10-5

Tentukan orde reaksi terhadap NO dan H2 dan tentukan persamaan laju reaksinya, serta satuan tetapan jenis reaksi (k)

persamaan laju reaksi dapat dituliskan sebagai berikut v = k [NO]x[H2]y

Orde reaksi terhadap NO ditentukan dari percobaan 1 dan 2

2x = 4  ð   x   = 2

Orde reaksi terhadap H2 ditentukan dari percobaan 1 dan 3

2y =  2                       ;  y  = 1

persamaan laju reaksinya berdasarkan orde reaksi yang diperoleh adalah:

v = k [NO]2[H2], kemudian satuan tetapan jenis reaksinya adalah:

v = k [NO]2[H2]

M s-1 = k [M]2[M]

M s-1 = k M3;                             k =          =

  1. g. Teori Tumbukan

Pengaruh dari berbagai faktor yang mempengaruhi laju reaksi dapat dijelaskan dengan teori tumbukan. Menurut teori ini, suatu reaksi berlangsung sebagai hasil tumbukan antara partikel pereaksi. Akan tetapi, tidak setiap tumbukan menghasilkan reaksi, melainkan hanya tumbukan antarpartikel yang memiliki energi cukup serta arah tumbukan yang tepat. Jadi, laju reaksi akan bergantung pada tiga hal berikut:

1)      Frekuensi tumbukan

2)      Energi partikel pereaksi

3)      Arah tumbukan

Tumbukan yang menghasilkan reaksi, kita sebut tumbukan efektif. Energi minimum yang harus dimiliki oleh partikel pereaksi, sehingga menghasilkan tumbukan efektif disebut energi pengaktifan (Ea = energi aktivasi). Energi pengaktifan ditafsirkan sebagai energi penghalang antara pereaksi dan produk. Pereaksi harus didorong, sehingga dapat melewati energi penghalang tersebut baru kemudian dapat beruabah menjadi produk.

a) Pengaruh Konsentrasi dan Luas Permukaan

Konsentrasi dan luas permukaan berhubungan dengan frekuensi tumbukan. Semakin besar konsentrasi, semakin besar pula kemungkinan partikel saling bertumbukan, sehingga reaksi bertambah cepat. Begitu juga halnya dengan luas permukaan, semakin luas permukaan, maka semakin banyak tumbukan, reaksi semakin cepat berlangsung.

b) Pengaruh Suhu

Menurut teori kinetik gas, molekul-molekul dalam suatu wadah tidaklah mempunyai energi yang sama, tetap bervariasi. Sebagian besar molekul mempunyai energy rata-rata. Peningkatan suhu akan menaikkan energi rata-rata molekul, sehingga reaksi molekul yang mencapai energi pengaktifan bertambah. Akibatnya, laju reaksi akan meningkat.

c) Pengaruh Katalis

Katalis adalah zat yang dapat mempercepat laju reaksi, tetapi zat itu tidak terlibat, sehingga pada akhir reaksi dapat diperoleh kembali. Reaksi yang menggunakan katalis dapat berlangsung pada suhu yang lebih rendah, berarti katalis dapat menurunkan energi pengaktifan, sehingga laju reaksi meningkat.

  1. B. Kerangka Berpikir

Pembelajaran melalui metode Accelerated Learning berusaha mengubah suasana belajar yang monoton dan membosankan ke dalam Susana belajar yang meriah dan gembira dengan memadukan potensi fisik dan keterlibatan emosi siswa. Penyampaian materi dengan cara yang tepat dapat membantu siswa lebih mudah untuk memahami serta membangun ingatan jangka panjang terhadap materi yang diajarkan.

Lingkungan belajar yang kondusif merupakan salah satu faktor pendukung proses belajar yang perlu dipertimbangkan. Pengaturan bangku siswa menjadi format berbentuk huruf “U” akan memudahkan guru memperhatikan dan berinteraksi langsung dengan siswa selama proses belajar mengajar berlangsung, sehingga siswa dapat lebih fokus dan berkonsentrasi pada saat guru menjelaskan materi.

Materi laju reaksi yang memuat teori-teori bersifat abstrak sangat sesuai apabila diilustrasikan melalui gambar dan simbol-simbol yang mewakili konsep abstrak tersebut, sehingga siswa akan lebih cepat memahami materi laju reaksi yang diberikan. Selain teori-teori yang bersifat abstrak, materi laju reaksi juga memuat persamaan-persamaan yang memerlukan keahlian siswa dalam pemecahan soal sehingga dengan mengupayakan partisipasi siswa melalui pengerjaan soal dipapan tulis dapat melatih siswa dalam memecahkan soal tersebut.

Melalui rancangan seperti ini memungkinkan siswa untuk belajar bermakna dengan dibarengi suasana belajar yang tidak membosankan, sehingga menghasilkan pengalaman belajar yang mengesankan bagi siswa. Pengalaman belajar ini memiliki pengaruh yang besar terhadap hasil belajar siswa.

  1. C. Hipotesis Alternatif

Berdasarkan kajian teori dan kerangka pikir yang dikemukakan, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah, “ada pengaruh penggunaan metode Accelerated Learning dengan hasil belajar siswa kelas XI IPA I SMAN 1 Tompobulu pada materi pokok Laju Reaksi”.

BAB III

METODE PENELITIAN

A.  Jenis dan Variabel Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu, yang terdiri dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Penggunaan metode Accelerated Learning sebagai variable bebas sedangkan hasil belajar siswa pada materi Laju Reaksi sebagai variabel terikat.

B.  Desain penelitian

Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah pretest-posttest control group design yang dapat dijabarkan pada Tabel 3.1

Tabel 3.1 Desain penelitian

Group Pretest Perlakuan Postest
Eksperimen (1) O1Ta Ta O2Ta
Kontrol (2) O1Tb Tb O2Tb

Keterangan:

(1)     : Kelas yang diajar dengan metode Accelerated Learning

(2)     : Kelas yang diajar dengan metode pembelajaran konvensional

O1Ta : Nilai pretest kelas yang diajar dengan metode Accelerated Learning

O2Ta : Nilai postest kelas yang diajar dengan metode Accelerated Learning

O1Tb : Nilai pretest kelas yang diajar dengan metode pembelajaran konvensional

O2Tb : Nilai postest kelas yang diajar dengan metode pembelajaran konvensional

C.  Defenisi Operasional Variabel

1.   Metode Accelerated Learning merupakan metode belajar yang berusaha mengubah suasana belajar yang monoton dan membosankan ke dalam Susana belajar yang meriah dan gembira dengan memadukan potensi fisik dan keterlibatan emosi siswa melalui langkah-langkah yang disingkat MASTER.

2.   Metode pembelajaran konvensional merupakan metode mengajar yang lebih memusatkan proses belajar mengajar kepada guru (teacher centered).

3.   Hasil belajar adalah skor yang menunjukkan penguasaan siswa terhadap materi yang diberikan sebelum dan setelah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan metode konvensional dan metode Accelerated Learning yang diperoleh melalui tes hasil belajar yang berbentuk pilihan ganda.

D.  Populasi dan Sampel

1.   Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI IPA              SMA Negeri 1 Tompobulu tahun pelajaran 2009/2010 yang berjumlah 55 orang, yang terbagi dalam dua kelas, dengan jumlah siswa kelas XI IPA 1 sebagai kelas eksperimen sebanyak 30 orang dan untuk kelas XI IPA 2 sebagai kelas control sebanyak 25 orang.

2.   Sampel

Pengambilan sampel dilakukan dengan mengambil dua kelas tanpa melakukan sistem random sebab jumlah kelas XI IPA hanya ada dua kelas saja. Kedua kelas tersebut kemudian diacak dan kelas yang menggunakan metode Accelerated Learning adalah kelas XI IPA 1 dan kelas yang menggunakan metode pembelajaran konvensional adalah kelas XI IPA 2.

E.  Prosedur Penelitian

Pelaksanaan penelitian ini terdiri atas beberapa tahap yaitu:

1.   Tahap persiapan

Sebelum pelaksanaan proses belajar mengajar terlebih dahulu dibuat  beberapa persiapan yaitu:

  1. Berkonsultasi dengan guru bidang studi kimia kelas XI mengenai keadaan siswa, materi dan rencana pembelajaran.
  2. Membuat RPP tentang materi Laju Reaksi untuk kelas kontrol dan eksperimen.
  3. Menyusun instrument berupa tes hasil belajar yang terdiri dari soal pilihan ganda.
  4. Menvalidasi instrument penelitian yang berupa tes hasil belajar di kelas XII IPA  SMAN 1 Tompobulu pada tanggal 13 Oktober 2009. Validasi  instrument penelitian meliputi validasi item dan validasi isi. Validasi item dihitung dengan rumus korelasi product moment Pearson, sedangkan yang bertindak sebagai validator isi adalah guru kimia SMAN 1 Tompobulu.
  5. Menghitung reliabilitas instrument dengan menggunakan rumus Kuder-Richardson (K-R 20).
  6. Menyampaikan kepada siswa untuk mempersiapkan diri mengikuti pretest.

2.   Tahap pelaksanaan

Tahap pelaksanaan penelitian ini secara rinci dan jelas seperti pada Tabel 3.2

Tabel 3.2  Tahap pelaksanaan penelitian

Pertemuan Metode Belajar Konvensional waktu Metode belajar Accelerated Learning waktu
1 2 3 4 5
  • Memberikan pretest
  • Mensosialisasikan metode pembelajaran konvensional

 

90 

menit

  • Memberikan pretest
  • Mensosialisasikan metode Accelerated Learning
90 

menit

Kegiatan awal 

  • Mengecek kehadiran siswa
  • Menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai

Kegiatan inti

  • Menjelaskan materi pelajaran tentang laju reaksi
  • Memberikan kesempatan kepada siswa untuk menanyakan materi yang kurang dipahami
  • Meminta siswa menyelesaikan soal-soal dalam buku
  • Meminta siswa untuk mengerjakan dipapan tulis

Kegiatan akhir

  • Menutup pertemuan dengan memberikan pekerjaan rumah
90 

menit

Kegiatan awal 

  • Mengecek kehadiran siswa
  • Menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai
  • Memotivasi pikiran siswa dengan memberikan sugesti keberhasilan dan manfaat mempelajari konsep laju reaksi

Kegiatan inti

  • Memberikan gambaran manfaat mempelajari konsep laju reaksi jika dihubungkan manfaatnya dengan kehidupan sehari untuk meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa. Contoh: 1) Penggunaan kulkas sebagai lemari pendingin merupakan penerapan konsep laju reaksi. 2)  proses berkaratnya benda logam merupakan contoh laju reaksi
  • Menjelaskan secara ringkas materi laju reaksi
  • Meminta kepada siswa untuk membaca ulang materi yang dijelaskan pada bukunya masing-masing
  • Membantu siswa menyelidiki makna dari materi yang diperoleh dengan menganalogikan konsep laju reaksi yang lebih akrab dikenal oleh siswa
  • Melakukan pengulangan-pengulangan terhadap konsep laju reaksi
  • Meminta kepada siswa untuk mengungkapkan kembali apa yang ia ketahui melalui test lisan untuk feedback
  • Meminta siswa lain untuk menambahkan jawaban temannya
  • Membantu siswa dengan menyempurnakan kembali jawabannya

Kegiatan akhir

  • Menyimpulkan materi dengan menerangkan sekilas materi kemolaran dan laju reaksi
  • Memberikan pekerjaan rumah (PR)

90 

menit

F.   Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan memberikan pre test dan post test. Soal pre test dan post test yang diberikan sama untuk masing-masing kelas kontrol dan kelas eksperimen. Instrumen yang digunakan mencakup semua indikator yang harus dicapai oleh siswa pada materi pokok Laju Reaksi. Tes prestasi belajar kimia disusun dalam bentuk pilihan ganda yang terdiri atas 20 nomor soal pilihan ganda dengan 5 pilihan jawaban yang telah divalidasi dan dihitung reliabilitasnya sebelum diujikan ke sampel penelitian. Total skor yang diperoleh dari instrumen penelitian ini sebesar 20 dengan skor untuk setiap nomornya sebesar 1. Skor yang diperoleh kemudian diubah menjadi nilai dengan cara:

G.  Teknik Analisis Data

Pengelolaan data hasil penelitian menggunakan dua teknik statistik, yaitu statistik deskriptif dan inferensial.

  1. 1. Analisis Statistik Deskriptif

Analisis statistik deskriptif untuk mendeskripsikan hasil belajar siswa pada materi pokok Laju reaksi untuk setiap kelas eksperimen, yang terdiri dari skor rata-rata (Mean), standar deviasi, skor tertinggi dan terendah. Data hasil belajar siswa kemudian dikategorikan dalam kategori tuntas dan tidak tuntas berdasarkan kriteria ketuntasan minimal (KKM) di SMAN 1 Tompobulu untuk materi pokok laju reaksi, seperti pada Tabel 3.3

Tabel 3.3  Kriteria ketuntasan hasil belajar siswa SMAN 1 Tompobulu pada materi pokok Laju Reaksi

Tingkat Penguasaan Kriteria
0-67 Tidak Tuntas
> 67 Tuntas

  1. 2. Statistik Inferensial

Analisis statistik inferensial digunakan untuk menguji kebenaran hipotesis yang diujikan. Sebelum melakukan analisis statistik inferensial, maka sebagai uji prasyarat dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas secara manual dan dengan SPSS for windows.

  1. a. Uji normalitas

Uji Normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data yang diteliti berasal dari populasi yang terdistribusi normal. Pengujian normalitas data hasil belajar kimia siswa dihitung dengan rumus:

(Oi – Ei)2

X2 = ∑

Ei

Keterangan :

X2 = Kai kuadrat (Chi square)

Oi = frekuensi yang diobservasi

Ei = frekuansi yang diharapkan

Kriteria  pengujian adalah data bersifat normal jika nilai χ2 hitung < χ2tabel pada taraf signifikansi α = 0,05 dan derajat kebebasan (dk) = n – 3. Selain secara manual, pengujian normalitas data hasil belajar kimia siswa juga dihitung dengan bantuan SPSS for windows dengan analisis One-Sample-Kolmogorov-Smirnov Test. Dengan kriteria pengujian: apabila signifikansi (Assymp. sig) yang diperoleh lebih besar dari a = 0,05 maka data tersebut berasal dari populasi yang terdistribusi normal dan sebaliknya.

b.   Uji homogenitas

Uji homogenitas digunakan untuk mengetahui apakah kedua sampel yang diambil homogen (mempunyai varians yang sama). Pengujian homogenitas ini dihitung dengan rumus:

Varians terbesar

F =

Varians terkecil

Data bersifat homogen jika Fhitung < Ftabel, untuk α =0,05. Selain secara manual, pengujian homogenitas data hasil belajar kimia siswa juga dihitung dengan bantuan SPSS for windows dengan analisis Levene Statistic Test. Dengan kriteria pengujian: Jika nilai signifikansi (p) yang diperoleh lebih besar dari a= 0,05 maka data tersebut homogen.

c.   Uji hipotesis

Rumusan uji hipotesis yang digunakan adalah uji hipotesis dua pihak:      dan

Keterangan:

m1:   rata-rata hasil belajar siswa yang diajar dengan Metode belajar konvensional

m2:   rata-rata hasil belajar siswa yang diajar dengan metode Accelerated Learning

Ho:  hipotesis nol

H1:  hipotesis tandingan

Pengujian hipotesis dilakukan dengan bantuan SPSS for Windows dengan analisis Univariate analysis of variance dengan kriteria pengujian: Ho diterima jika nilai signifikansi p lebih besar dari a= 0,05;

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. A. Hasil Penelitian
    1. 1. Analisis Deskriptif

Hasil analisis deskriptif terhadap hasil belajar siswa pada kelas yang diajar dengan metode pembelajaran AL dan metode ceramah dapat dilihat pada Tabel 4.1

Tabel 4.1 Deskripsi hasil belajar siswa kelas yang diajar dengan metode pembelajaran AL dan metode ceramah

Statistik Nilai Statistik
Accelerated Learning Ceramah
Pretest Postest Pretest Postest
Ukuran sampel 

Skor terendah

Skor tertinggi

Skor rata-rata(mean)

Standar Deviasi (SD)

30 

15

50

31,3

9,98

30 

60

95

76,7

8,98

25 

10

45

27,4

9,60

25 

45

90

62,28

12,01

Berdasarkan Tabel 4.1 dapat diketahui bahwa pada kelas yang diajar dengan metode Accelerated Learning untuk nilai pretest menunjukkan nilai tertinggi 50 dari nilai maksimum yang mungkin dicapai adalah 100, sedangkan nilai terendah 15 dari nilai minimum yang mungkin adalah nol. Adapun nilai rata-rata siswa adalah 31,3 dengan standar deviasi sebesar 9,98. Untuk nilai posttestnya menunjukkan bahwa nilai tertinggi adalah 95 dari nilai maksimum yang mungkin dicapai adalah 100, sedangkan nilai terendah adalah 60 dari nilai minimum yang mungkin adalah nol. Adapun nilai rata-rata siswa adalah 76,7 dengan standar deviasi 8,98.

Pada kelas yang diajar dengan metode konvensional (ceramah), untuk nilai pretest menunjukkan nilai tertinggi 45 dari nilai maksimum yang mungkin dicapai adalah 100, sedangkan nilai terendah 10 dari nilai minimum yang mungkin adalah nol. Nilai rata-rata siswa adalah 27,4 dengan standar deviasi sebesar 9,60. Untuk nilai postestnya, menunjukkan bahwa nilai tertinggi adalah 90 dari nilai maksimum yang mungkin dicapai adalah 100, sedangkan nilai terendah adalah 45 dari nilai minimum yang mungkin dicapai adalah nol. Nilai rata-rata siswa adalah 62,28 dengan standar deviasi sebesar 12,01.

Jika hasil belajar siswa dikelompokkan dalam kategori tuntas dan tidak tuntas maka diperoleh frekuensi dan persentase untuk masing-masing kelompok Accelerated Learning dan Metode Ceramah (konvensional) yang dapat dilihat pada tabel 4.2

Tabel 4.2  Kategori, frekuensi dan persentase nilai hasil belajar siswa

 

Nilai

 

Kategori

Accelerated Learning Ceramah
Frekuensi Persentase Frekuensi Persentase
0-67 

> 67

Tidak tuntas 

Tuntas

26

13,33% 

86,67%

18 

7

72% 

28%

Dari tabel 4.2 dapat memperlihatkan bahwa berdasarkan nilai hasil belajar siswa yang diajar dengan metode Accelerated Learning, tergolong tuntas belajar kimia pada materi laju reaksi sebanyak 26 siswa dengan persentase 86,67% dan yang tidak tuntas belajar kimia pada materi laju reaksi sebanyak 4 siswa dengan persentase 13,33%. Pada kelas yang diajar dengan metode konvensional (ceramah), siswa yang tuntas belajar kimia pada materi reaksi reduksi oksidasi sebanyak 7 siswa dengan persentase 28% dan siswa yang tidak tuntas sebanyak 18 orang dengan persentase 72%. Ini menunjukkan bahwa siswa yang diajar dengan menggunakan metode Accelerated Learning lebih banyak yang tuntas belajar kimia pada materi pokok laju reaksi dari pada siswa yang berada pada kelas yang diajar metode ceramah. Untuk lebih jelasnya, data ketuntasan hasil belajar siswa yang diajar dengan metode Accelerated Learning dan metode ceramah dapat dilihat pada  Gambar. 4.1

Gambar 4.1 Histogram persentase ketuntasan hasil belajar siswa yang diajar dengan metode Accelerated Learning dan metode ceramah

  1. 2. Analisis Statistik Inferensial
    1. a. Pengujian Prasyarat Analisis

Syarat yang harus dipenuhi sebelum melakukan pengujian hipotesis adalah melakukan pengujian normalitas dan homogenitas.

1) Uji Normalitas

Pengujian normalitas dilakukan terhadap data pre-test dan post-test pada kelas yang diajar dengan metode Accelerated Learning dan metode ceramah dengan menggunakan rumus Chi-kuadrat. Hasil perhitungan menunjukkan, pada kelas yang diajar dengan metode Accelerated Learning untuk data pretest dan posttest diperoleh nilai χ2hitung = 4,91 dan 4,59 dengan nilai χ2tabel = 7,81; dk= 3 dan taraf signifikansi α= 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa data pre-test dan post-test untuk kelas yang diajar dengan metode Accelerated Learning berdistribusi normal karena χ2hitung < χ2tabel. Pada kelas yang diajar dengan meotode ceramah, untuk data pretest dan posttestnya diperoleh nilai χ2hitung = 6,77 dan 6,17 dengan nilai χ2tabel = 7,81; dk = 3 dan taraf signifikansi α = 0,05. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa data pre-test dan post-test pada kelas yang diajar dengan metode ceramah juga berdistribusi normal karena χ2hitung < χ2tabel.

Pengujian dengan SPSS for windows dengan analisis One-Sample-Kolmogorov-Smirnov Test untuk data pretest pada kelas yang diajar metode ceramah diperoleh nilai signifikansi   p = 0,505 > α = 0,05; untuk kelas yang diajar dengan metode Acelerated Learning nilai signifikansi p = 0,849 > α = 0,05; hal ini menunjukkan bahwa data pretest setiap kelompok  berdistribusi normal, karena nilai signifikansi (p) > α = 0,05. Data posttest pada kelas yang diajar dengan metode ceramah, diperoleh nilai signifikansi p = 0,650 > α = 0,05. Kelas yang diajar dengan metode Acelerated Learning, diperoleh nilai signifikansi p = 0,466 > α = 0,05 (lampiran 8). Hal ini menunjukkan bahwa data posttest setiap kelompok  berdistribusi normal, karena nilai signifikansi (p) > α = 0,05.

2) Uji homogenitas

Pengujian homogenitas dilakukan dengan menggunakan uji-F, pada data  pre-test diperoleh nilai Fhitung sebesar 1,08, sedangkan untuk post-test diperoleh nilai Fhitung sebesar 1,79. Nilai Ftabel sebesar 1,95 untuk db pembilang = n-1 = 29 dan db penyebut = n – 1 = 24 pada taraf signifikansi α = 0,05; karena Fhitung­ < Ftabel, maka dapat disimpulkan bahwa sampel yang diteliti baik pada data pretest maupun data posttest berasal dari populasi yang homogen.

Pengujian homogenitas data hasil belajar kimia siswa juga dihitung dengan bantuan SPSS for windows dengan analisis Levene Statistic Test. Uji ini dilakukan untuk data pretest dan postest kelas yang diajar dengan metode ceramah dan metode Acelerated Learning. Berdasarkan hasil pengujian homogenitas varians untuk data pretest diperoleh nilai signifikansi p = 0,654 > α = 0,05 (lampiran 9), sedangkan data untuk postest diperoleh nilai signifikansi p = 0,075 > α = 0,05 (lampiran 9). Hal ini menunjukkan bahwa data pretest dan postest berasal dari populasi yang homogen.

  1. b. Pengujian hipotesis

Berdasarkan pengujian prasyarat analisis, data kelas yang diajar dengan metode Accelerated Learning dan kelas yang diajar dengan metode ceramah dinyatakan berdistribusi normal dan homogen. Hasil analisis dengan bantuan SPSS for Windows menggunakan analisis Univariate analysis of variance, diperoleh nilai signifikansi p = 0,000 < α = 0,050 (lampiran 10) yang menunjukkan bahwa Ho ditolak dan H1 diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh penggunaan metode Accelerated Learning terhadap hasil belajar siswa kelas XI IPA I SMAN 1 Tompobulu pada materi pokok Laju Reaksi.

  1. B. Pembahasan

Hasil analisis deskriptif untuk data pretest pada kelas yang diajar dengan metode Accelerated Learning diperoleh data skor tertinggi adalah 50, skor terendah adalah 15 dengan rata-rata 31,3. Pada kelas yang diajar dengan metode ceramah untuk data pretest, skor tertinggi adalah 45, skor terendah adalah 10 dengan rata-rata 27,4. Setelah diberi perlakuan untuk masing-masing kelas terjadi peningkatan nilai siswa yang terlihat dari nilai rata-rata posttest. Untuk kelas yang diajar dengan metode Accelerated Learning diperoleh nilai rata-rata sebesar 76,7 sedangkan untuk kelas yang diajar dengan metode ceramah, nilai rata-rata sebesar 62,28. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan hasil belajar pada kelas yang diajar dengan metode Accelerated Learning lebih tinggi dibandingkan dengan peningkatan hasil belajar pada kelas yang diajar dengan metode ceramah.

Berdasarkan kategori tuntas dan tidak tuntas, maka persentase ketuntasan kelas yang diajar dengan metode Accelerated Learning adalah 86,67% sedangkan kelas yang diajar dengan metode ceramah adalah 28%. Hal ini menggambarkan bahwa pencapaian hasil belajar siswa yang diajar dengan metode Accelerated Learning lebih tinggi dari pada siswa yang diajar dengan metode ceramah.

Hasil analisis inferensial dengan bantuan SPSS for Windows menggunakan analisis Univariate analysis of variance, diperoleh nilai signifikansi p = 0,000 < α = 0,050 menunjukkan bahwa H0 ditolak dan H1 dinyatakan diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh penggunaan metode Accelerated Learning terhadap hasil belajar siswa kelas XI IPA I SMAN 1 Tompobulu pada materi pokok Laju Reaksi.

Metode Accelerated Learning merupakan metode pembelajaran yang mengutamakan kenyamanan dalam belajar. Dengan demikian, siswa yang memiliki ketertarikan belajar yang kurang dapat termotivasi kembali untuk lebih giat dan serius dalam belajar  dan salah satu ciri metode Accelerated Learning adalah pemberian motivasi terhadap siswa. Adanya motivasi akan merangsang siswa untuk lebih fokus dalam menguasai pelajaran sehingga meningkatkan hasil belajar siswa, hal itu telah dibuktikan melalui penelitian yang telah dilakukan.

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

  1. A. Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil penelitian ini yaitu: terdapat pengaruh penggunaan metode Accelerated Learning terhadap hasil belajar siswa kelas XI IPA 1 SMAN 1 Tompobulu pada materi pokok Laju Reaksi. Hasil belajar siswa yang diajar dengan metode Accelerated Learning lebih tinggi daripada siswa yang diajar dengan metode ceramah karena siswa yang diajar dengan metode Accelerated Learning lebih termotivasi untuk belajar dibandingkan dengan siswa yang diajar dengan metode ceramah.

  1. B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, maka disarankan:

  1. Pada materi pokok laju reaksi sebaiknya digunakan metode Accelerated Learning.
  2. Bagi pihak lain yang ingin melakukan penelitian lanjutan, sebaiknya menganalisis alokasi waktu, fasilitas pendukung termasuk media pembelajaran dan karakteristik siswa yang ada pada sekolah tempat penelitian sehingga hasil penelitian lebih optimal.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, M. 2000. Strategi Belajar Mengajar Kimia. Jurusan Pendidikan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung.

Churiyah, M. 2009. Pembelajaran Akselerasi. (Online), (http://www.blogspot.com, diakses pada tanggal 09 Mei 2009)

Hamruni. 2008. Meningkatkan Kemampuan dan Kecepatan Belajar Dalam Konsep “Accelerated Learning”, (Online), ( http://www.google.co.id. diakses pada tanggal 06 Mei 2009)

Lutfi, 2008. Accelerate Learning, (online), (www.multiply.com, diakses pada tanggal 09 Mei 2009)

Montes, L.  2008. Philosophical and Ideological Perspective, (Online), (www.wordpress.com, diakses pada tanggal 09 Mei 2009)

Purba, M. 2007. Kimia Untuk SMA Kelas XI. Jakarta: Penerbit Erlangga

Rose & Nicholl. 2002. Accelerated Learning For The 21st Century. Bandung: Penerbit Nuansa

Sahabuddin, 2007. Mengajar dan Belajar. Makassar: Badan Penerbit UNM

Sanjaya, W. 2008. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Supraptojielwongsolo, 2008. Accelerated Learning. (Online), (http://www.google.co.id, diakses 09 Mei 2009)

Widyaiswara, 2008. Mengkaji Prinsip-Prinsip Accelerated Learning. (Online), (www.blogspot.com,  diakses pada tanggal 09 Mei 2009)<a <a

Elektrolisis

a. Sel dan elektrolisis

Dalam sel, reaksi oksidasi reduksi berlangsung dengan spontan, dan energi kimia yang menyertai reaksi kimia diubah menjadi energi listrik. Bila potensial diberikan pada sel dalam arah kebalikan dengan arah potensial sel, reaksi sel yang berkaitan dengan negatif potensial sel akan diinduksi. Dengan kata lain, reaksi yang tidak berlangsung spontan kini diinduksi dengan energi listrik. Proses ini disebut elektrolisis. Pengecasan baterai timbal adalah contoh elektrolisis.

Reaksi total sel Daniell adalah

Zn + Cu2+(aq) –> Zn2+(aq) + Cu (10.36)

Andaikan potensial lebih tinggi dari 1,1 V diberikan pada sel dengan arah kebalikan dari potensial yang dihasilkan sel, reaksi sebaliknya akan berlangsung. Jadi, zink akan mengendap dan tembaga akan mulai larut.

Zn2+(aq) + Cu –> Zn + Cu2+(aq) (10.37)

Gambar 10.6 menunjukkan representasi skematik reaksi kimia yang terjadi bila potensial balik diberikan pada sel Daniell. Bandingkan dengan Gambar 10.2.

Gambar 10.6 Electrolisis. Reaksi kebalikan dengan yang terjadi pada sel Daniell akan berlangsung. Zink mengendap sementara tembaga akan melarut.
b. Hukum elektrolisis Faraday

Di awal abad ke-19, Faraday menyelidiki hubungan antara jumlah listrik yang mengalir dalam sel dan kuantitas kimia yang berubah di elektroda saat elektrolisis. Ia merangkumkan hasil pengamatannya dalam dua hukum di tahun 1833.

Hukum elektrolisis Faraday

1. Jumlah zat yang dihasilkan di elektroda sebanding dengan jumlah arus listrik yang melalui sel.
2. Bila sejumlah tertentu arus listrik melalui sel, jumlah mol zat yang berubah di elektroda adalah konstan tidak bergantung jenis zat. Misalnya, kuantitas listrik yang diperlukan untuk mengendapkan 1 mol logam monovalen adalah 96 485 C(Coulomb) tidak bergantung pada jenis logamnya.

C (Coulomb) adalah satuan muatan listrik, dan 1 C adalah muatan yang dihasilkan bila arus 1 A (Ampere) mengalir selama 1 s. Tetapan fundamental listrik adalah konstanta Faraday F, 9,65 x104 C, yang didefinisikan sebgai kuantitas listrik yang dibawa oleh 1 mol elektron. Dimungkinkan untuk menghitung kuantitas mol perubahan kimia yang disebabkan oleh aliran arus listrik yang tetap mengalir untuk rentang waktu tertentu.

Contoh soal 10.7 hukum elektrolisis Faraday

Arus sebesar 0,200 A mengalir melalui potensiometer yang dihubungkan secara seri selama 20 menit. Satu potensiometer memiliki elektrode Cu/CuSO4 dan satunya adalah elektrode Pt/ H2SO4 encer. Anggap Ar Cu = 63,5. Tentukan

1. jumlah Cu yang mengendap di potensiometer pertama.
2. Volume hidrogen pada S. T. P. yang dihasilkan di potensiometer kedua.

Jawab
Jumlah muatan listrik yang lewat adalah 0,200 x 20 x 60 = 240, 0 C.

1. Reaksi yang terlibat adalah Cu2+ + 2e-–> Cu, maka massa (w) Cu yang diendapkan adalah. w (g) = [63,5 (g mol-1)/2] x [240,0 (C)/96500(C mol-1)] = 0,079 g
2. Karena reaksinya 2H+ + 2e-–> H2, volume hidrogen yang dihasilkan v (cm3) adalah.
v (cm3) = [22400 (cm3mol-1)/2] x [240,0(C)/96500(C mol-1)] = 27,85 cm3

c. Elektrolisis penting di industri

Elektrolisis yang pertama dicoba adalah elektrolisis air (1800). Davy segera mengikuti dan dengan sukses mengisolasi logam alkali dan alkali tanah. Bahkan hingga kini elektrolisis digunakan untuk menghasilkan berbagai logam. Elektrolisis khususnya bermanfaat untuk produksi logam dengan kecenderungan ionisasi tinggi (misalnya aluminum). Produksi aluminum di industri dengan elektrolisis dicapai tahun 1886 secara independen oleh penemu Amerika Charles Martin Hall (1863-1914) dan penemu Perancis Paul Louis Toussaint Héroult (1863-1914) pada waktu yang sama. Sukses elektrolisis ini karena penggunaan lelehan Na3AlF6 sebagai pelarut bijih (aluminum oksida; alumina Al2O3).

Sebagai syarat berlangsungnya elektrolisis, ion harus dapat bermigrasi ke elektroda. Salah satu cara yang paling jelas agar ion mempunyai mobilitas adalah dengan menggunakan larutan dalam air. Namun, dalam kasus elektrolisis alumina, larutan dalam air jelas tidak tepat sebab air lebih mudah direduksi daripada ion aluminum sebagaimana ditunjukkan di bawah ini.

Al3+ + 3e-–> Al potensial elektroda normal = -1,662 V (10.38)

2H2O +2e-–> H2 + 2OH- potensial elektroda normal = -0,828 V (10.39)

Metoda lain adalah dengan menggunakan lelehan garam. Masalahnya Al2O3 meleleh pada suhu sangat tinggi 2050 °C, dan elektrolisis pada suhu setinggi ini jelas tidak realistik. Namun, titik leleh campuran Al2O3 dan Na3AlF6 adalah sekitar 1000 °C, dan suhu ini mudah dicapai. Prosedur detailnya adalah: bijih aluminum, bauksit mengandung berbagai oksida logam sebagai pengotor. Bijih ini diolah dengan alkali, dan hanya oksida aluminum yang amfoter yang larut. Bahan yang tak larut disaring, dan karbon dioksida dialirkan ke filtratnya untuk menghasilkan hidrolisis garamnya. Alumina akan diendapkan.

Al2O3(s) + 2OH-(aq)–> 2AlO2- (aq) + H2O(l) (10.40)

2CO2 + 2AlO2 -(aq) + (n+1)H2O(l) –> 2HCO3- (aq) + Al2O3·nH2O(s) (10.41)

Alumina yang didapatkan dicampur dengan Na3AlF6 dan kemudian garam lelehnya dielektrolisis. Reaksi dalam sel elektrolisi rumit. Kemungkinan besar awalnya alumina bereaksi dengan Na3AlF6 dan kemudian reaksi elektrolisis berlangsung.

Al2O3 + 4AlF63-–> 3Al2OF62- + 6F- (10.42)

Reaksi elektrodanya adalah sebagai berikut.

Elektroda negatif: 2Al2OF62- + 12F- + C –> 4AlF63- + CO2 + 4e- (10.43)

Elektroda positif: AlF63- + 3e-–> Al + 6F- (10.44)

Reaksi total: 2Al2O3 + 3C –> 4Al + 3CO2 (10.45) Kemurnian aluminum yang didapatkan dengan prosedur ini kira-kira 99,55 %. Aluminum digunakan dalam kemurnian ini atau sebagai paduan dengan logam lain. Sifat aluminum sangat baik dan, selain itu, harganya juga tidak terlalu mahal. Namun, harus diingat bahwa produksi aluminum membutuhkan listrik dalam jumlah sangat besar.

Latihan

10.1 Bilangan oksidasi

Tentukan bilangan oksidasi setiap unsur yang ditandai dengan hurugf tebal dalam senyawa berikut.

(a) HBr (b) LiH (c) CCl4 (d) CO (e) ClO- (f) Cl2O7 (g) H2O2 (h) CrO3 (i) CrO42- (j) Cr2O72-

10.1 Jawab

(a) +1 (b) -1 (c) +4 (d) +2 (e) +1 (f) +7 (g) -1 (h) +6 (i) +6 (j) +6

10.2 Reaksi oksidasi reduksi

Untuk tiap reaksi berikut, tentukan bilangan oksidasi atom berhuruf tebal. Tentukan oksidan dan reduktan dan tentukan perubahan bilangan oksidasinya.

(a) PbO2 + 4H+ + Sn2+ –> Pb2+ + Sn4+ + 2H2O

(b) 5As2O3 + 4MnO4- + 12H+ –> 5As2O5 + 4Mn2+ + 6H2O

10.2 Jawab

(a) Pb: +4 –> +2 direduksi. Sn: +2 –> +4 dioksidasi

(b) As: +3 –> +5 dioksidasi. Mn: +7 –> +2 direduksi

10.3 Titrasi oksidasi reduksi

0,2756 g kawat besi dilarutkan dalam asam sedemikian sehingga Fe3+ direduksi menjadi Fe2+. Larutan kemudian dititrasi dengan K2Cr2O7 0,0200 mol.dm-3 dan diperlukan 40,8 cm3 larutan oksidan untuk mencapai titik akhir. Tentukan kemurnian (%) besinya.

10.3 Jawab

99,5 %

10.4 Potensial sel

Tentukan potensial sel (pada 25°C) yang reaksi totalnya diberikan dalam persamaan berikut. Manakah yang akan merupakan sel yang efektif?

1. Mg + 2H+ –> Mg2+ + H2
2. Cu2+ + 2Ag –> Cu + 2Ag+
3. 2Zn2+ + 4OH-–> 2Zn + O2 + 2H2O

10.4 Jawab

1. Mg –> Mg2+ +2e-, +2,37 V. 2H+ + 2e-–> H2, 0,00 V; potensial sel: +2,37 V,efektif.
2. Cu2+ + 2e-–> Cu, 0,337 V. Ag–> Ag+ + e-, -0,799 V, potensial sel: -0,46 V,tidak efektif.
3. Zn2+ + 2e-–> Zn, -0,763 V. 4OH-–> 4e- + O2 + 2H2O, -0.401 V potensial sel: -1,16 V, tidak efektif.

10.5 Persamaan Nernst

Hitung potensial sel (pada 25°C) yang reaksi selnya diberikan di bawah ini.

Cd + Pb2+ –> Cd2+ + Pb

[Cd2+] = 0,010 mol dm-3; [Pb2+] = 0,100 mol dm-3

10.5 Jawab

0,30 V

10.6 Hukum Faraday

Bismut dihasilkan dengan elektrolisis bijih sesuai dengan persamaan berikut. 5,60 A arus listrik dialirkan selama 28,3 menit dalam larutan yang mengandung BiO+. Hitung massa bismut yang didapatkan.

BiO+ + 2H+ + 3e- –> Bi + H2O

10.6 Jawab

6,86 g

LESSON STUDY


Oleh:
Dr. rer. nat. H. Muharram, M.Si

Abstrak
Guru sebagai tenaga profesional dituntut untuk memiliki kompetensi pedagogi, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian, dan kompetensi sosial.upaya untuk menguasai keempat kompetensi tersebut dengan melalui pendidikan formal hanya merupakan syarat perlu bagi setiap guru. Akan tetapi, upaya peningkatan kemampuan secara terus-menerus (continous improvement) merupakan syarat cukup yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Salah satu alternatif upaya yang bisa dilakukan guru untuk hal tersebut adalah melalui Lesson study. Para guru harus mau berubah untuk mengadakan pembaruan dalam pelaksanan kegiatan belajar mengajar agar dapat memenuhi tuntutan kurikulum. Guru harus dapat menerapkan inovasi-inovasi baru dalam pendidikan khususnya dalam inovasi pembelajaran di sekolah. Pengembangan inovasi pembelajaran sangat menuntut kreativitas guru.

A. PENDAHULUAN
Manusia adalah pelaku kongkrit sejarah dalam kehidupan, tidak sedikit orang yang tidak menyadari tentang hakekat dirinya, dan untuk menyadari hakekat diri manusia tidak memperolehnya secara serta merta. Manusia muncul dari historisitas dan konsekuensi logisnya, manusia hidup dalam proses. disini manusia membutuhkan apa yang namanya pendidikan (Paulo Freire). Berbicara tentang pendidikan, banyak pendapat ilmuwan yang memaparkan tentang perihal pendidikan, namun semuanya berujung pada “proses pendewasaan (usaha sadar)”, kami mengutip sebuah pendapat dari seorang yang memiliki paham behaviorisme John Dewey (1985) bahwa Pendidikan merupakan proses yang tanpa akhir (Education is the process without end).
Diskursus pendidikan bermunculan seiring dengan perkembangan zaman (IPTEK), yang menjadikan suatu sinyalemen bagi instrument yang bertanggung jawab atas pendidikan untuk bersama-sama melakukan suatu controlling dalam proses pendidikan, menurut Undang-undang Nomor 2 tahun 1989, Instrumen yang bertanggung atas terselenggaranya pendidikan adalah keluarga, masyarakat, dan pemerintah.
Menurut Tilaar (2001) Pendidikan dewasa ini dihadapkan pada 7 krisis pokok: (1) menurunnya akhlaq dan moral peserta didik, (2) Pemerataan kesempatan belajar, (3) masih rendahnya efesiensi internal sistem pendidikan, (4) Status kelembagaan, (5) Manajemen Pendidikan yang tidak sejalan dengan perkembangan, (6) SDM yang belum professional. Problematika ini cukup krusial dan kerap kali menimpa pada instrument yang terkait dalam pendidikan, konklusi yang menjadi resolusi diskursus ini adalah “kita sama-sama sadar” akan Peran & Fungsi nya, kita tidak bisa menyalahkan salah satu pihak, karena jika dideskripsikan problem ini layaknya sebuah siklus atau lingkaran setan yang tak berujung.
Berbagai metode dan strategi dan model pembelajaran, kurikulum pembelajaran mulai bermunculan dan mulai berganti-ganti disesuaikan dengan pekembangan zaman khususnya kondisi siswa, salah satu insiatif yang muncul dari Jepang adalah Lesson study yang merupakan salah satu resolusi pendidikan di Indonesia, meskipun konsep ini muncul dari Jepang, apa salahnya bila statement ini kita coba dalam rangka “Trial And Error” selama itu merupakan hal yang positif dan menjadikan pendidikan kita lebih baik.

B. LESSON STUDY
1. Apa Itu Lesson Study?
Lesson study adalah metode yang berorientasi pada praktek untuk meningkatkan keterampilan mengajar oleh guru-guru itu sendiri. Kelebihan dari metode ini adalah, peran guru yang dapat berubah-ubah: siapapun dapat berperan sebagai guru pengajar dalam satu waktu dan menjadi guru pengamat di lain waktu. Pergantian peran ini menciptakan rasa saling mengerti serta mendukung di antara guru dan secara efektif meningkatkan mutu proses belajar-mengajar. Bermacam-macam istilah yang digunakan untuk metode sejenis ini di berbagai sumber pustaka, misalnya: ”action research”, “coaching”, dan “clinical supervision”. Dalam program ini, lesson study akan digunakan sebagai istilah umum untuk kegiatan yang berusaha untuk mengembangkan profesi guru.
Lesson study dilakukan dengan dua prinsip pelaksanaan, yaitu mutual learning dan cholegality. Karena itu, penerapan lesson study dapat meningkatkan kompetensi guru, terutama yang terkait dengan pengetahuan, pengetahuan materi pokok, pengetahuan pengajaran, pengetahuan riset, kapasitas mengamati siswa, menghubungkan praktek sehari-hari dengan tujuan jangka panjang, motivasi, hubungan dengan kolega dan saling bantu, komitmen, dan akuntabilitas.
Makoto Yoshida, seorang pakar lesson study di Jepang, memberikan garis besar pelaksanaan lesson study sebagaimana dipraktekkan di Jepang. Ciri-ciri utama Lesson Study antara lain memberi kesempatan nyata kepada para guru menyaksikan pembelajaran (teaching) dan belajar (learning) di ruang kelas.
Lesson study membimbing guru untuk memfokuskan diskusi-diskusi mereka pada perencanaan, pelaksanaan, observasi/ pengamatan, dan refleksi pada praktek pembelajaran di kelas. Dengan menyaksikan praktek pembelajaran yang sebenarnya di ruang kelas, guru-guru dapat mengembangkan pemahaman atau gambaran yang sama tentang apa yang dimaksud dengan pembelajaran efektif, yang pada gilirannya dapat membantu siswa memahami apa yang sedang mereka pelajari.
Karakteristik unik yang lain dari lesson study adalah bahwa lesson study menjaga agar siswa selalu menjadi jantung kegiatan pengembangan profesi guru. Lesson study memberi kesempatan pada guru untuk dengan cermat meneliti proses belajar serta pemahaman siswa dengan cara mengamati dan mendiskusikan praktek pembelajaran di kelas. Kesempatan ini juga memperkuat peran guru sebagai peneliti di dalam kelas. Guru membuat hipotesis (misalnya, jika penyusun mengajar dengan cara tertentu, anak-anak akan belajar) dan mengujinya di dalam kelas bersama siswanya. Kemudian guru mengumpulkan data ketika melakukan pengamatan terhadap siswa selama berlangsungnya pelajaran dan menentukan apakah hipotesis itu terbukti atau tidak di kelas.
Ciri lain dari lesson study adalah bahwa ia merupakan pengembangan profesi yang dimotori guru. Melalui lesson study, guru dapat secara aktif terlibat dalam proses perubahan pembelajaran dan pengembangan kurikulum. Selain itu, kolaborasi dapat membantu mengurangi isolasi di antara sesama guru dan mengembangkan pemahaman bersama tentang bagaimana secara sistematik dan konsisten memperbaiki proses pembelajaran dan proses belajar di sekolah secara keseluruhan.
Selain itu, lesson study merupakan bentuk penelitian yang memungkinkan guru-guru mengambil peran sentral sebagai peneliti praktek kelas mereka sendiri dan menjadi pemikir dan peneliti yang otonom tentang pembelajaran (teaching) dan belajar (learning) di ruang kelas sepanjang hidupnya.
Dekan FPMIPA UPI memaparkan bahwa:
a. Lesson study adalah metodologi pengembangan professional guru melalui pembelajaran bersama berbasis kolegalitas.
b. Dibutuhkan komitmen yang kuat dari kepala sekolah untuk melaksanakan lesson study
c. Lesson study bukanlah kesempatan bagi pengamat untuk mengkritisi guru yang mengajar, melainkan kesempatan bagi pengamat untuk belajar mengenai pembelajaran siswa dari pengamatan pembelajaran tersebut.
d. Semua guru harus mengevaluasi pembelajaran mereka sendiri dengan berpartisipasi di dalam lesson study. Untuk meningkatkan pembelajaran siswa dan menangani siswa dengan baik.
e. Semua guru harus melakukan lesson study setidaknya sekali dalam satu tahun.

2. Mengapa Harus Lesson Study?
Dari sekian banyak permasalahan atau persoalan pendidikan adalah bagaimana menciptakan pendidikan yang berstandar pada mutu. Berbagai program peningkatan pendidikan telah digulirkan pemerintah melalui direktorat pendidikan menengah seperti program BBE Life Skill, Sekolah Berstandar Nasional, Sekolah Berstandar Internasional, dan masih banyak lagi program pengembangan lainnya.
Menurut Indra Jadi Sidi (2000), sesuai data UNDP Indonesia menempati peringkat 109 dari 174 negara dunia, dan menempati peringkat 46 yang paling bawah di Asia Tenggara, Singapura menempati peringkat 2, Malaysia peringkat 27, Philipina peringkat 32 dan Thailand peringkat 34.
Para guru harus mau berubah untuk mengadakan pembaruan dalam pelaksanan kegiatan belajar mengajar agar dapat memenuhi tuntutan kurikulum seperti yang telah diuraikan di atas. Guru harus dapat menerapkan inovasi-inovasi baru dalam pendidikan, khususnya dalam inovasi pembelajaran di sekolah. Pengembangan inovasi pembelajaran sangat menuntut kreativitas guru. Kegiatan pengembangan inovasi pembelajaran hendaknya melibatkan organisasi profesi guru seperti MGMP agar hasilnya sesuai dengan misi pendidikan. Bentuk inovasi pembelajaran yang telah dikembangkan guru, selanjutnya disosialisasikan kepada guru-guru lain agar mereka dapat menirunya dan sekaligus dapat menilai efektivitasnya terhadap peningkatan kualitas pembelajaran. Pelaksanaan sosialisasi yang sekaligus dapat menilai efektivitas tersebut dapat dilakukan melalui lesson study.
Lesson study merupakan salah satu solusi guna memenuhi tuntutan perbaikan mutu pendidikan di Indonesia, karena dengan metode ini, kualitas guru akan dapat ditingkatkan secara mandiri dan efisien. Namun, keefektifan lesson study ini tidak akan tercapai tanpa adanya dukungan dari berbagai pihak. Karena inti dari lesson study adalah adanya hubungan yang harmonis dan saling menguntungkan.
Lesson study mempunyai fungsi dan manfaat antara lain :
a. Sebagai perbaikan kualitas keprofesian guru ketika bekerja. Para guru dapat mengambil pelajaran dan saling bertukar konsep mengajar hingga pada tahapan selanjutnya guru semakin mapan dan professional dalam bidangnya.
b. Sebagai alat ukur meningkatnya pembelajaran. Seorang kepala sekolah dapat memberlakukan Lesson study untuk mengukur kemajuan atau peningkatan pembelajaran yang tengah berlangsung di sekolahnya. Kepala sekolah dapat juga memberlakukan Lesson study ini untuk mengukur kualitas keprofesionalan seorang guru dalam pembelajarannya untuk bahan sertifikasi guru ke jenjang yang lebih tinggi.
c. Sebagai pengembangan pembelajaran. Dengan adanya Lesson study, guru dan rekan-rekan sejawatnya dapat saling memberikan masukkan dengan temuan-temuan baru yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran sebagai uji coba dalam Lesson study. Hingga dengan ini metode pembelajaran tidak berjalan monoton namun berkembang sesuai dengan kondisi peserta belajar dan dapat menghadirkan peserta belajar yang kondusif.

3. Bagaimana Pelaksanaan Lesson Study?

Lesson study biasanya terdiri dari tahapan-tahapan berikut:
a. Tahap Perencanaan
Guru mempersiapkan rencana pembelajaran (tahap perencanaan). Pada tahap ini dilakukan identifikasi masalah yang ada pada proses pembelajaran dan menentukan alternatif solusi pemecahannya. Fokus permasalahan berkaitan dengan karakteristik pokok bahasan, jadwal pelajaran, karakteristik siswa dan suasana kelas, metode/pendekatan pembelajaran, media, alat peraga, serta evaluasi proses dan hasil belajar. Solusi yang telah dipilih selanjutnya diaplikasikan ke dalam suatu perangkat pembelajaran yang terdiri dari:
1) Skenario pembelajaran
2) Rencana pelajaran
3) Petunjuk mengajar guru
4) Lembar kerja siswa
5) Media atau alat peraga pembelajaran
6) Lembar penilaian proses dan hasil pembelajaran.

b. Tahap Implementasi dan Observasi
Salah seorang guru mempraktekkan rencana pembelajaran di kelas yang sesungguhnya, sedangkan para guru pendamping yang lain mengamati pembelajaran tersebut (tahap pembelajaran terbuka). Pada tahap ini seorang guru mengimplementasikan rencana pembelajaran yang telah disusun guru itu sendiri dan atau oleh tim pengajar mata pelajaran sejenis. Ketika implementasi berlangsung, para guru lain, kepala sekolah, dan pakar pembelajaran meneliti proses pembelajaran melalui observasi. Selain diobservasi, aktivitas pembelajaran juga direkam melalui perekam video, gunanya agar guru pelaksana pembelajaran bersama-sama kepala sekolah dan guru lain dapat menilai proses pembelajaran yang telah berlangsung.
Bervariasinya latar belakang observer yang diikutsertakan dalam lesson study merupakan kelebihan tersendiri karena fokus perhatian serta pemahaman tentang proses yang terjadi bagi masing-masing observer juga akan sangat beragam. Dan dengan demikian, tentu akan memperkaya pengetahuan masing-masing pihak, terutama dalam langkah refleksi.

c. Tahap Refleksi
Setelah pembelajaran, guru pengajar dan para guru pengamat mendiskusikan hasil pembelajaran, menyampaikan umpan balik pada guru pengajar (tahap refleksi). Pada tahap ini guru yang telah melakukan pembelajaran diberi kesempatan untuk menyatakan kesan-kesannya selama melaksanakan pembelajaran, baik terhadap dirinya maupun terhadap para siswa yang dihadapinya. Selanjutnya para observer (guru lain dan pakar) menyampaikan komentar, saran dan pertanyaan me nyangkut semua aspek kegiatan pembelajaran yang telah berlangsung. Pada tahap ini kepala sekolah dan pakar pembelajaran memberikan penghargaan (reward) dan masukan-masukan kepada guru. Hal yang penting pada tahap ini adalah guru pelaksana pembelajaran mendapatkan masukan-masukan untuk perbaikan pembelajaran berikutnya. Sedangkan guru yang menjadi observer dapat mencobakan model pembelajaran yang telah dicontohkan oleh guru pelaksana pembelajaran. Sungguh suatu hubungan mutualisme telah terjalin pada tahap ini.

4. Manfaat dan Kendala Dalam Pelaksanaan Lesson Study
a. Manfaat Pelaksanaan Lesson Study
Menurut kepala sekolah:
1) Guru lebih percaya diri
2) Menghasilkan rpp/lks lebih baik
3) Lebih peduli siswa
4) Menggunakan media/metode ber-variasi
5) Lebih kreatif
6) Kerjasama meningkat
Menurut guru
1) Tidak takut diamati karena pengamatan terfokus pada siswa
2) Saling belajar membelajarkan
3) Memahami siswa belajar
4) Dapat mengobservasi siswa belajar
5) Dapat merefleksi
6) Memperoleh tambahan pengetahuan tentang: pembuatan rpp/lks yang kreatif, pendalaman materi, metode, menulis karya ilmiah
Dampak pada siswa:
1) Lebih aktif
2) Tidak malu bertanya dan berpendapat
3) Senang
4) Mudah memahami
5) Merasa diperhatikan guru dan dihargai hak belajarnya
b. Kendala Dalam Pelaksanaan Lesson Study
Kendala yang dihadapi:
1) Guru tidak punya waktu
2) Jarak jauh tdk ada uang transpor
3) Tidak siap membuka kelas
4) Meremehkan/memandang remeh
5) Bosan
6) Malas

C. BILA LESSON STUDY DITERAPKAN DI LINGKUNGAN PENDIDIKAN INDONESIA
Penerapan lesson study sebagai salah satu metode peningkatan mutu guru di sekolah-sekolah di Indonesia, Masih banyak salah kaprah tentang pengertian lesson study, sehingga kurangnya kemampuan guru sering dijadikan alasan kendala untuk terlaksananya lesson study. Padahal, seperti telah dibahas di atas bahwa lesson study merupakan salah satu upaya peningkatan kualitas mengajar seorang guru. Dengan lesson study, guru dapat menjalin hubungan yang saling menguntungkan dengan bekerjasama dalam upaya peningkatan kualitas pembelajaran. Untuk mengatasi kendala tersebut, perlu diberikan beberapa penjelasan tentang apa sebetulnya lesson study kepada setiap guru, seperti yang selalu berusaha dilakukan oleh kepala sekolah penyusun. Akan sangat bermanfaat apabila lesson study dapat terlaksana dengan baik di sekolah, Kualitas motivasi belajar siswa daerah yang rawan juga menjadi tantangan bagi guru, di mana siswa akan dengan mudah meninggalkan suatu pelajaran, bahkan berhenti sekolah, apabila menemukan situasi yang tidak disukainya dalam suatu proses pembelajaran yang harus dia lewati.
pelaksanaan pendidikan di sekolah dapat berinovasi bersama hingga dapat memberikan pelayanan terbaik kepada siswa, walau di pedesaan sekalipun. Setelah kita mengetahui tentang Lesson Study (LS) yang membahas tentang model pembinaan profesi guru melalui pengkajian pembelajaran dengan cara sebagai berikut:
1. Berkolaboratif dan berkesinambungan
2. Berdasarkan prinsip-prinsip kolegalitas, serta
3. Mutual Learning untuk membangun Learning Community
Sedikitnya penyusun bisa menarik kesimpulan bahwa Lesson Study (LS) sangat baik jika diterapkan di sekolah. Karena selama ini masih banyak sekali permasalahan-permasalahan yang ditemui ketika PBM berlangsung, contohnya: Masih banyak siswa yang acuh ketika PBM berlangsung, Pencapaian target materi yang kurang maksimal (pencapaian indikator) , Masih ada guru yang kaku dalam pemilihan methode, Tekhnik pengkondisian siswa yang masih minim. Dengan melihat permasalahan-permasalahan di atas sangatlah cocok apabila Lesson Study diterapkan di sekolah, dengan begitu kita bisa saling mengomentari KBM yang masih perlu diperbaiki dengan tujuan mencapai mutual learning. Lesson Study dapat meningkatkan kompetensi guru sebagai berikut:
1. Pengetahuan materi pokok
2. Pengetahuan pengajaran dan metode
3. Pengetahuan riset
4. Kapasitas mengamati siswa
5. Menghubungkan praktek sehari-hari dengan tujuan jangka panjang.
Lesson Study merupakan salah satu model pembinaan keprofesionalan guru yang ada dalam kegiatan supervisi. Supervisi ini dilaksanakan oleh kepala sekolah pemipin sekolah dalam program kerjanya, karena kepala sekolah mempunyai peranan sebagai manajer (pengarah, penggerak sumber daya) dalam proses pembelajaran di kelas. Lesson Study sangat bermanfaat bila diterapkan di sekolah karena kegiatan pembinaan dan pengembangan ini efektif dan efisien dibandingkan dengan model pembinaan job training atau penataan yang membutuhkan dana yang tidak sedikit. Program supervisi ini dilaksanakan kepala sekolah ataupun guru senior yang ditunjuk kepala sekolah untuk membentuk kelompok kerja “Lesson Study”.

D. PENUTUP
Lesson study merupakan alternatif pembinaan profesi guru melalui aktivitas-aktivitas kolaboratif dan berkelanjutan. Prinsip kolaborasi akan memfasilitasi para guru untuk membangun komunitas belajar yang efektif dan efesien, sedangkan prinsip berkelanjutan akan memberi peluang bagi guru untuk menjadi masyarakat belajar sepanjang hayat. Dua hal ini sangat penting bagi guru dalam menjalankan perannya sebagai sosok panutan dan yang dipercaya oleh siswa di sekolah. Implementasi lesson study secara berkelanjutan akan membantu guru mempercepat peningkatan profesionalismenya. Indikator-indikator peningkatan profesionalisme guru melalui implementasi lesson study, adalah pengembangan rancangan dan pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang selalu menuntut dilakukannya inovasi pembelajaran dan asesmen, siklus plan-do-see yang memungkinkan guru untuk dapat mengembangkan pemikiran kritis dan kreatif tentang belajar dan pembelajaran, proses sharing pengalaman berbasis pengamatan pembelajaran memberi peluang bagi guru untuk mengembangkan keterbukaan dan peningkatan kompetensi sosialnya, dan proses-proses refleksi secara berkelanjutan adalah suatu ajang bagi guru untuk meningkatkan kesadaran akan keterbatasan dirinya.

PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU MELALUI PENDIDIKAN PROFESI

Muharram
Muharram*
*)Dosen Kimia FMIPA UNM

Abstrak
Guru merupakan salah satu pilar atau komponen utama yang dinamis dalam mencapai tujuan Pendidikan serta untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu. Pendekatan yang berorientasi pada perbaikan sarana dan prasarana tidak mampu mengangkat mutu pendidikan secara berarti. Suatu kenyataan di lapangan banyak fasilitas pembelajaran seperti peralatan laboratorium, referensi pustaka, studio atau workshop yang ada di sekolah tidak termanfaatkan secara optimal oleh sekolah. Ruang laboratoium dijadikan ruang kelas, ruang perpustakaan dipersempit dan dijadikan ruang guru bahkan gudang. Salah satu faktor penyebab adalah guru tidak siap untuk memanfaatkan fasilitas yang diberikan oleh berbagai macam proyek yang ditujukan ke sekolah tersebut. Oleh karena itu, maka pencapaian standar kompetensi guru merupakan suatu keharusan. Sebab tanpa ada standar maka jaminan kepada stakeholder tidak mungkin terpenuhi secara optimal. Upaya peningkatan kualitas pendidikan untuk mengangkat dari keterpurukan tidak mungkin terlaksana dengan baik apabila tidak dibarengi dengan upaya penegakan standar penyelenggaraan pendidikan, standar pelayanan pendidikan serta standar kompetensi guru, standar lulusan dan standar tenaga kependidikan lainnya. Upaya pencapaian standar kompetensi guru diantaranya dapat dilakukan dengan Pendidikan profesi guru.

A. Pendahuluan
Tuntutan terhadap lulusan dan layanan lembaga pendidikan yang bermutu semakin mendesak karena semakin ketatnya persaingan dalam lapangan kerja. Salah satu implikasi globalisasi dalam pendidikan yaitu adanya deregulasi yang memungkinkan peluang lembaga pendidikan asing membuka sekolahnya di Indonesia. Oleh karena itu persaingan antar lembaga penyelenggara pendidikan dan pasar kerja akan semakin berat. Mengantisipasi perubahan-perubahan yang begitu cepat serta tantangan yang semakin besar dan kompleks, tiada jalan lain bagi lembaga pendidikan kecuali hanya mengupayakan segala cara untuk meningkatkan daya saing lulusan serta produk-produk akademik dan layanan lainnya, yang antara lain dicapai melalui peningkatan mutu pendidikan.
Pada era sekarang, yang sering disebut era globalisasi, institusi pendidikan formal mengemban tugas penting untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) Indonesia berkualitas di masa depan. Di lingkungan pendidikan persekolahan (education as schooling) ini, guru profesional memegang kunci utama bagi peningkatan mutu SDM masa depan itu. Guru merupakan tenaga profesional yang melakukan tugas pokok dan fungsi meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta didik sebagai aset manusia Indonesia masa depan. Pemerintah tidak pernah berhenti berupaya meningkatkan profesionalisme guru dan kesejahteraan guru. Pemerintah telah melakukan langkah-langkah strategis dalam kerangka peningkatan kualifikasi, kompetensi, kesejahteraan, serta perlindungan hukum dan perlindungan profesi bagi mereka. Langkah-langkah strategis ini perlu diambil, karena apresiasi tinggi suatu bangsa terhadap guru sebagai penyandang profesi yang bermartabat merupakan pencerminan sekaligus sebagai salah satu ukuran martabat suatu bangsa.

B. Profesi dan Profesionalisasi Keguruan
Guru profesional memiliki kemampuan mengorganisasikan lingkungan belajar yang produktif. Kata “profesi” secara terminologi diartikan suatu pekerjaan yang mempersyaratkan pendidikan tinggi bagi pelakunya dengan titik tekan pada pekerjaan mental, bukan pekerjaan manual. Kamampuan mental yang dimaksudkan di sini adalah ada persyaratan pengetahuan teoritis sebagai instrumen untuk melakukan perbuatan praktis.
Dari sudut penghampiran sosiologi, Vollmer & Mills dalam bukunya Professionalization (1972) mengemukakan bahwa profesi menunjuk kepada suatu kelompok pekerjaan dari jenis yang ideal, yang sesungguhnya tidak ada di dalam kenyataan atau tidak pernah akan tercapai, akan tetapi menyediakan suatu model status pekerjaan yang bisa diperoleh, bila pekerjaan itu telah mencapai profesionalisasi secara penuh. Kata profesional berarti sering diartikan sifat yang ditampilkan oleh seorang penyandang profesi, berikut implikasinya dikaitkan dengan kebutuhan hidupnya. Dalam UU No. 14 tahun 2005, kata profesional diartikan sebagai pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.
Profesionalisme berasal dari kata bahasa Inggris professionalism yang secara leksikal berarti sifat profesional. Profesionalisasi merupakan proses peningkatan kualifikasi atau kemampuan para anggota penyandang suatu profesi untuk mencapai kriteria standar ideal dari penampilan atau perbuatan yang diinginkan oleh profesinya itu. Profesionalisasi mengandung makna dua dimensi utama, yaitu peningkatan status dan peningkatan kemampuan praktis. Peningkatan status dan peningkatan kemampuan praktis ini harus sejalan dengan tuntutan tugas yang diemban sebagai guru.
Sebagi tenaga profesional, guru dituntut memvalidasi ilmunya, baik melalui belajar sendiri maupun melalui program pembinaan dan pengembangan yang dilembagakan oleh pemerintah atau masyarakat. Pembinaan merupakan upaya peningkatan profesionalisme guru yang dapat dilakukan melalui kegiatan seminar, pelatihan, dan pendidikan. Pembinaan guru dilakukan dana kerangka pembinaan profesi dan karier. Pembinaan profesi guru meliputi pembinaan kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial. Pembinaan karier sebagaimana dimaksud pada meliputi meliputi penugasan, kenaikan pangkat, dan promosi.
Tampaknya, Kendati syarat kualifikasi pendidikan terpenuhi, tak berarti dengan sendirinya seseorang bisa bekerja profesional, sebab juga harus ada cukup bukti bahwa dia memiliki keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu. Karena itu, belakangan ditetapkan bahwa sertifikasi pendidik merupakan pengakuan yang diberikan kepada guru dan dosen sebagai tenaga profesional.
Syarat kedua profesi adalah pemberlakuan pelatihan dan praktik yang diatur secara mandiri (self-regulated training and practice). Kalau kebanyakan orang bekerja di bawah pengawasan ketat atasan, tak demikian dengan profesi. Pekerjaan profesional menikmati derajat otonomi tinggi, yang bahkan cenderung bekerja secara mandiri. Sejumlah pelatihan profesional masih diperlukan dan diselenggarakan oleh asosiasi profesi. Gelar formal dan berbagai bentuk sertifikasi dipersyaratkan untuk berpraktik profesional. Bahkan, pada sejumlah profesi yang cukup mapan, lobi-lobi politik asosiasi profesi ini bisa memberikan saksi hukum terhadap mereka yang melakukan praktik tanpa sertifikasi terkait.
Bila tolak-ukur ini dikenakan pada pekerjaan keguruan, jelas kemantapan guru sebagai profesi belum sampai tahapan ini. Banyak guru masih bekerja dalam pengawasan ketat para atasan serta tidak memiliki derajat otonomi dan kemandirian sebagaimana layaknya profesi. Pun nyaris tanpa sanksi bagi siapa saja yang berpraktik keguruan meskipun tanpa sertifikasi kependidikan. Sistem konvensional teramat jelas tidak mendukung pemantapan profesi keguruan. Keputusan penilaian seorang guru bidang studi, misalnya, sama sekali tidak bersifat final karena untuk menentukan kelulusan, atau kenaikan kelas, masih ada rapat dewan guru. Tak jarang, dalam rapat demikian, seorang guru bidang studi harus “mengubah” nilai yang telah ditetapkan agar sesuai dengan keputusan rapat dewan guru.
Dalam konteks otoritas profesional tersebut, tampak berbeda antara otonomi profesi dosen dengan otonomi profesi guru. Dengan sistem kredit semester, seorang dosen bisa membuat keputusan profesional secara mandiri dan bertanggung-jawab. Keputusan seorang dosen profesional memiliki bobot mengikat sebagaimana keputusan seorang dokter untuk memberikan atau tidak memberikan obat tertentu. Tak sesiapa pun, termasuk Ketua Jurusan, Dekan, dan bahkan Rektor, yang bisa melakukan intervensi langsung terhadap penilaian yang telah dilakukan oleh seorang dosen terhadap mahasiswanya. Tentu saja, di balik otoritas demikian, juga dituntut adanya tanggung-jawab dan keberanian moral seorang tenaga profesional.
Guru bukan pedagang. Itu jelas, karena seorang pedagang yang baik hanya punya satu dorongan, yaitu memuaskan pelanggan agar mendapatkan keuntungan bagi dirinya. Prinsip pembeli adalah raja, tidak berlaku dalam pekerjaan profesional keguruan. Ini terkait dengan syarat profesi ketiga, yaitu: kewenangan atas klien (authority over clients). Karena memiliki pendidikan formal dan nonformal ekstensif, para profesional mengakui dan diakui memilik pengetahuan yang tak sesiapa pun di luar profesi yang bersangkutan dapat memahami secara penuh pengetahuan tersebut. Karena pengakuan demikian, maka seorang profesional melakukan sendiri proses asesmen kebutuhan, diagnosis masalah, hingga pengambilan tindakan yang diperlukan beserta tanggung-jawab moral dan hukumnya. Seperti seorang dokter yang tidak bisa didikte oleh seorang pasien untuk memberikan jenis perlakuan dan obat apa, demikian pula tak seorang peserta didik atau bahkan orangtua mereka yang berhak mendikte materi, metode dan penilaian seorang guru.
Guru profesional tidak boleh terombang-ambing oleh selera masyarakat, karena tugas guru membantu dan membuat peserta didik belajar. Perlu diingat, seorang guru atau dosen memang tidak diharamkan untuk menyenangkan peserta didik dan mungkin orangtua mereka. Namun demikian, tetap harus diingat bahwa tugas profesional seorang pendidik adalah membantu peserta didik belajar (to help the others learn), yang bahkan terlepas dari persoalan apakah mereka suka atau tidak suka.
Syarat terakhir, pekerjaan profesional juga ditandai oleh orientasinya yang lebih kepada masyarakat daripada kepada pamrih pribadi (community rather than self-interest orientation). Pekerjaan profesional juga dicirikan oleh semangat pengutamaan orang lain (altruism) dan kemanfaatan bagi seluruh masyarakat ketimbang dorongan untuk memperkaya diri pribadi. Walaupun secara praktik boleh saja menikmati penghasilan tinggi, bobot cinta altruistik profesi memungkinkan diperolehnya pula prestise sosial tinggi.
C. Kurikulum Pendidikan Profesi
Pendidikan profesi ditekankan pada unsur kematangan, keterampilan, dan tanggungjawab. Untuk itu diperlukan waktu yang memadai melakukan latihan, praktek dan magang. Pendidikan profesi dilakukan setelah peserta didik melewati jenjang pendidikan tinggi atau pendidikan akademik. Pendidikan profesi adalah syarat bagi calon guru untuk dapat mengikuti uji kompetensi dan sertifikasi guru.
Pendidikan profesi keguruan dilakukan dengan cara konsekutif bagi lulusan D2, D3, dan S1. Pendidikan profesi guru tersebut dilaksanakan oleh LPTK terakreditasi. Pendidikan profesi untuk satu bidang tertentu dilakukan di fakultas yang mengasuh bidang studi tersebut.
Berdasarkan Kepmen No.232 tahun 2000 dan Kepmen No.045 tahun 2002 setiap lulusan pendidikan tinggi termasuk guru sekurang-kurangnya memiliki 5 unsur kompetensi yang mencakup kepribadian, ilmu dan keterampilan, keahlian berkarya, sikap dan perilaku berkarya serta kemampuan berkehidupan bermasyarakat. Apabila acuan ini digunakan mengembangkan kurikulum pendidikan profesi maka setidaknya kurikulum pendidikan profesi keguruan lebih ditekankan pada keahlian berkarya serta sikap dan perilaku berkarya. Pendekatan yang digunakan untuk mengembangkan dan merevisi kurikulum pendidikan profesi keguruan adalah
(1) menjalin kemitraan dengan pengguna guru
(2) mencari masukan dari asosiasi profesi keguruan dan asosiasi profesi lainnya yang relevan, dan melakukan task analysis. Dengan cara tersebut, secara akurat dapat dilakukan upaya perbaikan terhadap content dan performance kompetensi yang pada akhirnya berakibat terhadap keharusan untuk melakukan pemutakhiran kurikulum pendidikan profesi seiring dengan perkembangan tuntutan kebutuhan profesi.
Apabila dilakukan pemetaan materi kurikulum pendidikan profesi keguruan, maka penguasaan subject matter yang kuat harus didukung oleh keahlian transfer ilmu, keahlian untuk membelajarkan peserta didik, dan kemampuan reflektif untuk melakukan perbaikan yang berkelanjutan. Untuk itulah diperlukan materi Strategi belajar mengajar, Telaah kurikulum, Evaluasi Pembelajaran, Penelitian Tindakan Kelas, Microteaching, dan PPL. Agar kedua keahlian tersebut diatas tidak kehilangan roh dan jiwa pendidikan maka perlu diberikan materi yang mendukung sikap dan perilaku berkarya, yakni filsafat dan teori pembelajaran, perkembangan peserta didik, teknologi pendidikan/ pembelajaran serta teknologi komunikasi dan informasi. Untuk memenuhi sasaran di atas, maka kurikulum pendidikan profesi guru perlu dirancang dengan beban studi 36—40 sks.

D. Pendidikan Profesi Guru Untuk Meningkatkan Profesionalitas Guru
Pemerintah berupaya keras dalam meningkatkan kesejahteraan guru. Para pendidik diharapkan menjadi pendidik profesional dan menjadi garda terdepan dalam pencerdasan kehidupan bangsa. Salah satu langkah pemerintah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan profesionalisme guru adalah dengan mengadakan sertifikasi guru. Tak hanya itu, ternyata pemerintah juga telah menurunkan peraturan yang mengatur tentang adanya Pendidikan Profesi Guru (PPG).
PPG merupakan program pendidikan setelah S1 yang mencakup keahlian khusus yang terkait dengan kompetensi guru. Merujuk pada Undang-undang No. 20 tahun 2003, bahwasanya pendidikan dibagi menjadi tiga macam, yakni pendidikan akademik misalnya S1, S2, dan S3; kemudian pendidikan profesi misalnya PPG; dan yang terakhir adalah pendidikan vokasi misalnya diploma. Pendidikan profesi guru ini dapat disamakan pula dengan pendidikan profesi psikologi bagi sarjana psikologi yang akan menjadi psikolog, pendidikan profesi dokter bagi sarjana kedokteran yang akan menjadi dokter. Hal ini akan memperluas pilihan bagi seorang sarjana kependidikan, apakah ingin menjadi guru ataukah tidak. Bagi yang ingin menjadi guru, maka harus menempuh PPG terlebih dahulu. Adanya PPG ditujukan untuk meningkatkan profesionalisme guru.
Pendidikan profesi guru masih merupakan konsep baru dalam sistem pendidikan Indonesia. PPG dapat ditempuh bagi mereka yang telah menyelesaikan pendidikan S1. Tentunya PPG terbuka bagi sarjana apapun yang bidang ilmunya relevan, baik itu sarjana pendidikan maupun sarjana dari ilmu murni. Misalkan, sarjana matematika ingin menjadi guru matematika. Hanya saja, bagi mereka yang berasal dari sarjana ilmu murni, akan berbeda dengan mereka yang berasal dari sarjana pendidikan. Bagi sarjana ilmu murni apabila mengikuti PPG, maka akan terlebih dahulu dikenai matrikulasi atau penyetaraan.
Adanya PPG juga memberikan pilihan bagi sarjana pendidikan untuk tidak mejadi guru. Selain itu, di dalam PPG nantinya juga akan ada PPL yang menjadi bekal bagi guru untuk terjun dalam dunia pendidikan. PPG merupakan syarat utama seorang sarjana S1 untuk dapat menjadi guru. Bagi mereka yang lulus dari PPG akan mendapatkan tunjangan guru dan menjadi guru profesional sebagaimana guru-guru yang telah lulus sertifikasi.

E. Penutup
Pemerintah akan terus berusaha meningkatkan kualifikasi dan kompetensi guru. Hal ini sejalan dengan amanat UU No. 14 Tahun 2005, bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kalifikasi akademik dimaksud diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana atau program diploma empat. Disamping berkualifikasi sebagaimana dimaksud, guru-guru dituntut memiliki kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Implementasi program peningkatan kualifikasi dan kompetensi guru, termasuk sertifikasi guru, akan dilakukan secara bertahap. Tentu saja hal ini mengharuskan partisipasi aktif masyarakat dan terutama penyelenggara pendidikan.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.